Published On: Kam, Jun 19th, 2014

Indahnya Berbagi “Nelangsa” di Rumah Oke Tuban

KEREK

TAK CANGGUNG: Seorang penggawa cewek Oke Pub dan Karaoke asyik bercengkerama dengan Darmono di rumahnya Dusun Tegal Peron, Desa Padasan, Kecamatan Kerek, Kamis (19.06/2014) siang.

TAK CANGGUNG: Seorang penggawa cewek Oke Pub dan Karaoke asyik bercengkerama dengan Darmono di rumahnya Dusun Tegal Peron, Desa Padasan, Kecamatan Kerek, Kamis (19.06/2014) siang.

seputartuban.com–Jagad hiburan tak selalu selaras dengan gemerlap cahaya lampu, pesta dan hura-hura. Di balik itu, ternyata ada terselip sebuah partikel kecil dari sebuah emosi yang namanya kemanusiaan.

Hanya saja, hadirnya sisi humanis ini terkadang kurang mendapat apresiasi dari publik. Maklum, karena dunia hiburan itu sendiri sering dianggap mewakili stereotipe negatif hasil pemikiran yang dilakukan secara intuitif dengan menyederhanakan persoalan.

Namun begitu, realitas timpang di tengah kehidupan sosial tersebut justeru kian menumbuhkan semangat para penggawa Oke Pub dan Karaoke Tuban, terus menjaga komitmen berbagi kepada getir nasib orang-orang yang seolah terabaikan zaman.

 SAMA RATA: Sarini terharu bercampur kaget saat karyawan Oke Pub dan Karaoke memberikan bantuan di rumahnya Desa Hargoretno, Kecamatan Kerek, Kamis (19.06/2014) siang.


SAMA RATA: Sarini terharu bercampur kaget saat karyawan Oke Pub dan Karaoke memberikan bantuan di rumahnya Desa Hargoretno, Kecamatan Kerek, Kamis (19.06/2014) siang.

Tanpa publikasi dan gembar-gembor rumah musik yang ber-home base di Jalan Semarang KM Tuban ini, diam-diam menyisihkan sebagian rezeki seluruh karyawan Oke. Caranya pun sangat sederhana. Meski tidak ada instruksi dari bos Oke, namun dengan sukarela seluruh penggawa setiap hari mengisi “kotak sosial”.

Sementara gembok “kotak sosial” itu dipegang seseorang yang tak ada kaitannya sama sekali dengan managemen Oke Pub dan Karaoke. Setelah berjubel baru isi “kotak sosial” itu dibuka dengan disaksikan sejumlah pihak. Dengan begitu “kotak sosial” ini benar-benar terjaga “kesuciannya”. Hasil empati ini kemudian disalurkan kepada warga Kabupaten Tuban yang benar-benar membutuhkan.

“Ini kita salurkan secara rutin. Kita tidak tergantung even atau momen tertentu. Bisa sebulan sekali. Tergantung peroleh kotak sosial itu sendiri,” terang seorang karyawan cewek Oke Pub dan Karaoke, di sela acara pemberian santuan kepada Darmono diafabel 14 tahun di rumahnya Dusun Tegal Peron, Desa Padasan, Kecamatan Kerek, Kamis (19/06/2014) siang.

Sekedar mengingatkan,  Darmono mungkin hanya sedikit dari keluarga miskin yang luput dari pengawasan pemerintah daerah. Kemiskinan memang menyesakkan bagi Karsimin dan Tingah, orang tua Darmono. Beban hidup sepasang suami isteri yang sehari-hari menggantungkan nasib dengan menjadi buruh tani ini kian bertambah, setelah Darmono anak keempat dari lima bersaudara itu, sudah empat tahun menderita sakit. Hidupnya yang semrawut memaksa Karsimin dan Tingah harus menerima keadaan. Kondisi tempat tinggalnya pun sangat memprihatinkan.

“Saya sangat berterima kasih sudah dibantu. Dan saya hanya bisa mendoakan semoga Tuhan membalasnya,” ucap Karsimin ayah kandung Darno usai menerima bantuan uang tunai dari penggawa Oke Pub dan Karaoke yang datang langsung ke rumahnya.

Saat itu, Darmono sendiri sedang tidak di rumah. Lelaki kecil yang seperti kehilangan dunia kanak-kanaknya itu tengah bermain di rumah tetangganya sembari menikmati alunan musik dangdut kesukaannya dari sebuah radio. Maklum, di rumah Darmono radio menjadi barang mewah.

Selain itu, bantuan juga diberikan kepada Sarini, difabel lainnya berusia 61 tahun di rumahnya Desa Hargoretno, Kecamatan Kerek. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Sarini membuat tikar dari daun pandan. Dia tinggal bersama ibunya, Sarinah yang kini berusia 71 tahun dan tidak mampu lagi bekerja keras.

“Saya tidak menyangka ada yang mau membantu saya. Kami sangat berterima kasih telah diberikan bantuan,” kata Sarini berkaca=kaca.

Terpisah pengelola Oke Pub dan Karaoke, Willy Juanda Santoso, mengatakan bakti sosial ini sudah menjadi kegiatan rutin yang selalu dilakukan.

“Kegiatan ini akan terus kita lakukan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Selain itu supaya semua karyawan tumbuh empatinya. Suka tidak suka ternyata masih banyak orang yang menderita di sekitar kita. Dan mereka butuh uluran tangan” ungkap Willy.

Ya, ungkapan tulus anak muda ini seakan mengingatkan bahwa kebebasan dan moralitas sering dipandang sebagai dua entitas yang secara hakiki berlawanan. Kebebasan sering dimaknai sebagai ketiadaan ikatan atau batasan.

Sedangkan moralitas dan norma-normanya dipandang sebagai pengikat atau pembatas kebebasan manusia. Keduanya dianggap bertentangan dan saling meniadakan. Moralitas dan kebebasan merupakan dua hal yang secara bersama-sama membentuk kemanusiaan. Manusia adalah makhluk bebas sekaligus makhluk moral.  MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author