Published On: Kam, Jan 28th, 2016

Harga dan Cuaca Tak Bersahabat Petani Garam “Banting Stir”

PALANG

RESAH : Petani garam menunjukkan hasil panenya

RESAH : Petani garam menunjukkan hasil panenya

seputartuban.com – Musim hujan tiba giliran para petani garam meradang. Selain proses pembuatan garam semakin sulit, ditambah harga jual murah membuat mereka yang memiliki sawah, “banting stir” bercocok tanam.

Seperti salah satu Petani garam Desa Pliwetan, Kecamatan Palang, Suparlan, mengaku dia berhenti membuat garam dan beralih menanami sawahnya ketika musim hujan. “Kalau musim hujan, kami memilih menggarap sawah untuk menanam padi,” katanya, Rabu (27/1/2015).

Sering hujan mempengaruhi pembutan garam terganggu. Sehingga, baru tiga hari harus sudah dipanen. “Kalau pada musim panas, satu minggu baru digaruk. Sekarang, 2-3 hari sudah digaruk karena takut hujan turun,” tandasnya.

Petani lainnya, Darsuki, mengungkapkan saat ini harga garam merosot tajam menjadi alasan lain warga beralih pekerjaan. “Apalagi sekarang harga garam sangat murah, tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya, Rabu (27/1/2015).

Biasanya pada saat musim hujan datang harga akan membaik. Namun kali ini tidak, karena harga jual masih sangat murah. “Harganya masih murah per kilogramnya hanya Rp. 300 meskipun sudah memasuki musim hujan dan kami jelas mengalami kerugian yang cukup besar,” terangnya.

Berbeda tahun lalu, Saat musim hujan harga langsung naik pesat mencapai Rp. 600 per Kg. “Musim hujan kali ini tidak berpengaruh pada harga garam, berbeda dengan musim hujan tahun-tahun yang lalu,” sambungnya.

Sepanjang musim kemarau lalu, dia lebih banyak menghasilkan garam dibanding kemarau sebelumnya. Karena waktu musim panas lebih panjang. Dapat memanen 5 ton garam, sedangkan musim sebelumnya hanya 3-4 ton. “Karena musim kemarau pada tahun ini  lebih panjang”, pungkasnya. USUL PUJIONO

Facebook Comments

About the Author