Published On: Kam, Agu 27th, 2015

Giliran 137 Hektar Tanaman Jagung Puso

KEREK

MERANGGAS: Inilah salah satu sudut tegalan dengan tanaman jagung yang dipastikan gagal  panen di Kecamatan Kerek, Kamis  Kamis (27/8/2015) pagi.

MERANGGAS: Inilah salah satu sudut tegalan dengan tanaman jagung yang dipastikan gagal
panen di Kecamatan Kerek, Kamis Kamis (27/8/2015) pagi.

seputartuban.com-Tak hanya ratusan hektar tanaman padi yang mengalami gagal panen di Kabupaten Tuban.Nasib tak kalah mengenaskan menimpa petani jagung di Kecamatan Kerek.

Hampir separoh wilayah Kabupaten Tuban sisi barat ini tanaman jagung siap petik dipastikan puso atau gagal panen.  Total tanaman jagung yang mati kekeringan akibat tidak ada pasokan air itu luasnya mencapai 137 hektar.

Para petani yang nsibnya terpuruk ini tersebar pada sembilan desa dari 17 desa yang ada di Kecamatan Kerek. Rinciannya Desa Kasiman 20 hektar, Sumberarum 20 hektar, Karanglo 15 hektar, Padasan 7 hektar, Temayang 15 hektar, Jarorejo 20 hektar, Margorejo 10 hektar, Gaji 20 hektar dan Desa Kedungrejo seluas 10 hektar.

Pemicu gagal panen lantaran kawasan sentra tanaman jagung itu merupakan kawasan pertanian tadah hujan. Hitungan petani meleset karena musim kemarau maju lebih awal ketimbang tahun sebelumnya.

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Tuban, Nurhadi, mengatakan dengan majunya musim kemarau menyebabkan para petani di Kecamatan Kerek mengalami gagal panen. Kerugian yang diderita setiap hektarnya mencapai 50-60 persen.

“Bahkan banyak yang tidak panen sama sekali. Kerugian mencapai ratusan juta. Ongkos produksi saja itung-itungan kasarnya tidak balik,” tutur Nurhadi, Kamis (27/8/2015) pagi.

Dia menjelaskan, faktor lain yang tak kalah siginifikan gagal panen itu lantaran perhatian dari pemerintah daerah masih kurang. Buktinya, bantuan sumur bur yang diajukan petani berulang-ulang untuk irigasi pertanian di wilayah Kerek tak kunjung direspon.

“Secara geologi, di wilayah Kerek kedalaman sumber air lebih dari 50 meter. Sehingga bila dilakukan pengeboran biaya operasionalnya terlalu tinggi,” kata Nurhadi.

Selain itu, menurut Nurhadi, pemerintah daerah dianggap telah gagal menjalankan program embung atau atau waduk besar di kawasan rawan kekeringan.

Padahal keberadaan embung ini bisa dipakai untuk menampung air ketika musim hujan dan dimanfaatkan saat kemarau seperti sekarang ini.

Berkaitan itu, Nurhadi berharap Pemkab Tuban segera membangun embung dan waduk. Kepada

para petani yang gagal panen hendaknya Pemkab Tuban segera memberikan bantuan bibit serta biaya tanam ulang.

“Tidak hanya untuk tanaman padi saja yang diberikan bantuan puso. Sebab perintah dari Menteri Pertanian semua komoditas yang gagal panen harus mendapatkan bantuan,” tandas dia.

Pemkab Tuban Harus Menata Sistem Pengairan

Anggota Komisi B DPRD Tuban, Rasmani, mengatakan sudah saatnya pemerintah daerah lebih memperhatikan daerah-daerah tadah hujan untuk membantu dalam pengadaan irigasi.

Sehingga para petani di daerah-daerah tersebut kesejahteraannya bisa meningkat dan selalu tidak mengalami kerugian terus.

“Perlu memperbaiki sistem pengairan di wilayah tadah hujan dan solusi penanganannya,” ujar Rasmani terpisah.

Komisi B juga menekankan adanya peran serta dari perusahaan-perusahaan dalam memelihara lingkungan sekitar.

“Peran perusahaan-perusahaan yang ada masih kurang dalam memelihara lingkungan sebagai pendukung kelestarian sumber air,” terang Ketua Fraksi Nasdem Nurani Rakyat DPRD Tuban ini.

Rasmani menegaskan, dana CSR perusahaan untuk lingkungan dianggap masih kurang maksimal dan masih perlu ditingkatkan. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author