Published On: Jum, Mei 9th, 2014

Format CSR untuk Ketrampilan Usaha Mandiri

TUBAN

USAHA MANDIRI: Format kerjasama antara pemerintah kabupaten dengan kelompok industri besar saatnya diubah.

USAHA MANDIRI: Format kerjasama antara pemerintah kabupaten dengan kelompok industri besar saatnya diubah.

seputartuban.com–Kian meningkatnya angka pengangguran di Kabupaten Tuban membuat pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) terus memutar otak. Salah satunya dengan mengubah format kerjasama antara pemerintah kabupaten dengan kelompok industri besar.

Format dimaksud adalah memberi porsi lebih prgoram pelatihan ketrampilan mandiri untuk warga di kawasan perusahaan atau biasa disebut ring 1. Jika selama ini dana tanggung jawab sosial atau CSR (Corporate Social Responsibility) lebih banyak disalurkan dalam bentuk material dan pembangunan infrastruktur, ke depan alangkah baiknya “disisipkan” program-program pelatihan.

Berdasarkan data dari  Dinsosnakertrans Tuban, hingga melampaui tri wulan pertama tahun 2014 ini jumlah pemburu loker (lowongan kerja) tercatat 7.175 orang. Rinciannya 3.185 pria dan perempuan 3.990 orang. Sedangkan dari total pencari loker tersebut hanya tersedia 328 lowongan pada berbagai perusahaan yang ada di Kabupaten Tuban. Formasi ini membutuhkan skill laki-laki 147 orang serta wanita 181 orang.

Kasi Penempatan Tenaga Kerja Dinsosnakertrans, Harsono Triasworo, menyampaikan melihat angka tersebut perlunya menggenjot kerjasama kearah pelatihan ketrampilan. Diharapkan banyaknya pelatihan yang diberikan melalui dinas-dinas terkait akan mengurangi angka pengangguran.

“Selama ini sebenarnya pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada masyarakat itu sih ada. Hanya saja kapasitasnya perlu lebih ditingkatkan,” katanya saat ditemui, JUmat (09/05/2014).

Menurut Harsono, “pengubahan” format itu bukan tanpa alasan mengingat wilayah Tuban sendiri terus menggeliat sektor industrinya. Selain ada PT Semen Indonesia (PT SI), PT Holcim Indonesia serta Petro China JOB, bumi Tuban juga sebagai salah satu tujuan berinvestasi sektor lain yang tak kalah menggiurkan dengan semen dan minyak.

“Melihat kondisi ini rasanya miris ketika masyarakatnya minim peluang pekerjaan,” tegas Harsono.

Dia berharap, ketika sektor itu dibenahi kemungkinan besar persoalan loker ini akan menemukan jawabannya. Meski begitu, ia mengakui tingkat sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor utama yang menjadi kendala.
“Tetapi ketika ada pihak-pihak yang memperhatikan masalah ini, sudah tentu bisa menekan angka pengangguran,” katanya. AMIN

Facebook Comments

About the Author