Published On: Rab, Jul 23rd, 2014

Emoh Bikin Repot, Mandiri Hingga Senja Kala

Tua adalah proses yang tak bisa dihindari setiap orang, meski terkadang
sebagian takut menjadi tua karena identik dengan “barang” yang tak lagi
berguna dan terpinggirkan. Meski begitu, masih banyak segelintir orang yang tidak takut menjadi tua karena proses panjang yang dilakoni.

BERUSAHA TEGAR: Sadimah saat memilah batang padi sisa panen di areal persawahan Kecamatan Jenu, Rabu (23/07/2014) siang.

BERUSAHA TEGAR: Sadimah saat memilah batang padi sisa panen di areal persawahan Kecamatan
Jenu, Rabu (23/07/2014) siang.

seputartuban.com-Salah satu diantara sedikit yang tiddak takut menghadapi masa tua adalah Sadimah, perempuan 98 tahun yang tinggal di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu.  Kini di usianya yang terus merambat senja, meski tak punya sejengkal sawah pun Sadimah tetap menggantungkan hidup dari sana.

Dengan mengais sisa gabah dari  tumpukan jerami yang dipanen petani, Sadimah bisa menghidupi dirinya sendiri. Anak-anaknya sudah bekeluarga dan mandiri, meski dulu mereka juga hidup dari hasil pekerjaan ibunya, Sadimah, sebagai pengais gabah yang sudah dilakoni sejak
masih perawan kencur.

JATUH SENDIRI: Sadimah sedang menganginkan bulir padi yang diperoleh dari sisa panen.

JATUH SENDIRI: Sadimah sedang menganginkan bulir padi yang diperoleh dari sisa panen.

Selain karena ditempa proses panjang, yang membuat nenek Sadimah masih kuat mengais gabah dari sisa panen di bawah sengatan matahari adalah semangatnya mandiri yang tak pernah pudar.

Saat ditemui di area persawahan Kecamatan Jenu, tampak nenek yang sudah keriput  kulitnya namun masih terlihat sehat itu dengan semangat mengumpulkan bulir padi  dari setiap batang jerami. Setiap butir padi yang rontok ke tanah itulah yang menjadi haknya. Karena memang rontokan bulir-bulir padi itu sudah tidak mungkin lagi dipungut petani untuk dimasukkan ke dalam sak.

Untuk memisahkan antara biji yang berisi dan kosong atau yang muda
Sadimah tidak menggunakan alat khusus. Cukup gabah angsakan digelar di atas sak kemudian ditiras atau dianginkan, maka otomatis bulir padi yang berisi tidak akan terbang.

“Gabah yang kosong akan terpisah dengan sendjrinya. Yang berisi akan
jatuh  ke bawah dan yang kosong akan jatuh diluar beberan,” terang Sadimah dalam bahasa jawa saat ditemui, Rabu (23/07/2014) siang.

Dalam sehari, dirinya menuturkan sedikitnya memperoleh sekitar 3-4 kg gabah basah. Selanjutnya, gabah akan dibawa  pulang untuk dikeringkan. Setiap 2 kg gabah basah akan menjadi 1,5 kg gabah kering . Dari 1 kg gabah kering ini akan menghasilkan 6 ons beras. Beras itulah yang nantinya  dimakan setiap hari. Sebagian dijualya untuk membeli lauk pauk.

Di rumah, Sadimah berkumpul dengan anaknya . Namun untuk masalah ekonomi, Sadimah tetap bekerja sendiri untuk memenuhi perutnya. Tidak mau berdiam diri dan menggantungkan anak-anaknya. Untuk menambah pendapatan, tidak segan-segan dirinya harus berjalan berkilometer jauhnya untuk mengangsak. Tidak hanya gabah, ketika musim jagung dirinya juga mengais jagung.

Pendapatan yang tidak tentu itu, sejak kecil sampai setua ini tetap dilakoninya. Jasa panen juga dilakukannya untuk menambah pundi rupiah.

“Kalau ada yang mengajak panen, ya sering, kan dapat upah,” kata Sadimah.

Hingga saat ini hanya pekerjaan ini yang bisa ditekuninya. Tidak ada keahlian khusus untuk mencari pekerjaan yang layak meski tubuhnya sudah sering sakit-sakitan.

Apabila sakit, hanya timbunan hasil mengangsaknya dipergunakan untuk menyambung hidup. “Kalau sakit ya tidak kerja,” tandasnya berusaha tegar.   HANAFI

Facebook Comments

About the Author

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. wong edan berkata:

    berita wong ngangsak tonggoku nek kec. singgahan umbruan kang…!!!