Published On: Ming, Agu 31st, 2014

Eksotika Bulus Ngerong Diambang Kepunahan

RENGEL

EKSOTIKA NGERONG: Penelitian LIPI tahun 2002, Gua Ngerong panjangnya mencapai 1.770 meter dengan debit air dari mata air di hulu Goa Ngerong 773.6 liter per detik. Air yang keluar dari mulut gua sebanyak 523.7 liter per detik.

EKSOTIKA NGERONG: Penelitian LIPI tahun 2002, Gua Ngerong panjangnya mencapai 1.770 meter dengan debit air dari mata air di hulu Goa Ngerong 773.6 liter per detik. Air yang keluar dari mulut gua sebanyak 523.7 liter per detik.

seputartuban.com-Keberadaan bulus yang masuk bangsa kura-kura di obyek wisata goa dan kali Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, jumlahnya terus menyusut.

Padahal bulus atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut labi-labi (freshwater turtles) itu, selama ini menjadi salah satu ikon wisata Goa Ngerong di Goa Ngerong yang paling mengundang penasaran pengunjung.

Sebab, bulus yang menghuni Goa Ngerong berdampingan dengan ribuan ikan jutaan kelelawar ini, satu persatu mati dimakan diusia. Sementara sisanya yang kini tinggal 10 ekor tak bisa berkembang biak.

Menurut penjaga Goa Ngerong, Samin, tahun 1990 silam jumlah bulus di sungai yang juga menjadi sumber kehidupan warga serta irigasi pertanian kawasan Rengel bagian selatan ada 24 ekor. Dalam bentang waktu sudah 14 ekor bulus yang mati.

Ikwal bulus Ngerong tersebut, Samin menyebut banyak mengundang rasa ingin tahu pengunjung  bentuk fisiknya kaena memang tak setiap waktu menampakkan diri. Walaupun secara fisik kalau dilihat dengan mata telanjang bentuk mirip kura-kura, tapi kata Samin, bulus tersebut mau menampakkan diri kalau dirinya yang memanggil.

Lelaki yang akrab dipanggil Mbah Samin ini, mengaku memiliki catatan nama yang dia berikan kepada bulus-bulus itu termasuk tanggal matinya sejak 1990 lalu.

HILANGKAN PENAT: Seorang pengunjung tengah menikmati eksotika Goa Ngerong sembari memberika makan ribuan ikan dengan biji buah randu.

HILANGKAN PENAT: Seorang pengunjung tengah menikmati eksotika Goa Ngerong sembari memberika makan ribuan ikan dengan biji buah randu.

“Tapi sekarang sudah jarang mau nongol. Yang jinak dan mau menampakkan diri kalau saya panggil tinggal dua ekor saja,” terang Samin saat ditemui di mulut Goa Ngerong, Minggu (31/08/2014) pagi.

Mengantisipasi makin menyusutnya jumlah labi-labi tersebut, pawang bulus berkulit gelap ini berharap aktifis lingkungan dan pemerintah daerah segera turun tangan mencari solusi.

“Kalau tak segera diselamatkan bulus-bulus ini akan habis,” tandas Samin.

Berdasar hasil  penelitian LIPI tahun 2002, Gua Ngerong panjangnya mencapai 1.770 meter dengan debit air dari mata air di hulu Goa Ngerong 773.6 liter per detik. Air yang keluar dari mulut gua sebanyak 523.7 liter per detik.

Sementara mantan Kepala Desa Rengel, Mohammad Mochtar, menjelaskan populasi bulus Ngerong  terancam punah lantaran tidak pernah bertelur di tempat yang telah disiapkan. Uapaya menyiapkan tarangan atau kndang berukuran 2×3 meter dengan lokasi di luar atau berjarak enam meter meter dari mulut gua juga tak berhasil.

“Perkiraan saya, bertelurnya bulus-bulus tersebut dalam gua. Namun gagal menetas karena tidak mendapatkan sinar matahari,” jelas dia.

Mochtar menerangkan, keluarnya bulus hanya pagi hari. Biasanya dua ekor di mulut gua, satu ekor berenang keluar dari mulut gua, kemudian kalau sore hari masuk kembali ke dalam gua.

Kata dia, rata-rata bulus di Goa Ngerong memiliki diameter sekitar 1 meter. Salah satunya ada yang berwarna putih (Capture Movie C Alkantana).

Mochtar memaparkan, 25 tahun lalu jumlah bulus  pernah mencapai 50 ekor lebih, tapi terus menyusut karena hilang dijarah pencuri. “Sewaktu saya kecil, anak-anak sering bermain-main dengan naik bulus yang berenang di Sungai Ngerong,” tutur dia mengenang masa kanak-kanaknya.

Semasa menjabat sebagai Kepala Desa Rengel hingga paroh tahun 2013 lalu, Mochtar menjelaskan pengelolaan aset wisata Goa Ngerong yang luasnya sekitar 1 hektare dengan aneka satwa seperti kelelawar, berbagai aneka ikan, termasuk bulus, langsung dikelola desa.

“Pendapatannya berkisar Rp 120 juta per tahun,” katanya sembari mengimbuhkan selama dia menjabat Kepala Desa Rengel dirinya belum pernah melaporkan kepada Dinas Pariwisata Pemkab Tuban soal dilema bulus Ngerong itu. MUHAIMIN

Facebook Comments

About the Author