Published On: Sab, Jun 14th, 2014

Dwi Soetjipto Penerima Penghargaan Pena Emas Ke 35

Share This
Tags

JAKARTA

UKIR SEJARAH : Dirut PT Semen Indonesia (persero) Tbk, Dwi Seotjipto menerima lencana Pena Emas dari Ketua PWI, Margiono di Hall Gedung Dewan Pers Jakarta

UKIR SEJARAH : Dirut PT Semen Indonesia (persero) Tbk, Dwi Seotjipto menerima lencana Pena Emas dari Ketua PWI, Margiono di Hall Gedung Dewan Pers Jakarta

seputartuban.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menganugerahkan penghargaan Pena Emas kepada Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) Dwi Soetjipto. Penghargaan ini diserahkan oleh ketua PWI pusat Margiono kepada Dwi Soetjipto di Jakarta, Jumat (13/6/2014). Dalam kesempatan tersebut, Dwi Soetjipto membawakan orasi ilmiah berjudul “Peran Korporasi Dalam Mendorong Terciptanya Pers yang Berkualitas”.

Pena Emas merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh insan pers kepada pihak-pihak yang dinilai berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas jurnalisme di Indonesia. Pemberian penghargaan Pena Emas untuk Dwi adalah hasil dari Sidang Pleno PWI yang diikuti oleh para tokoh pers.

Dwi Soetjipto mengatakan, dirinya bangga, terharu, dan tidak menyangka mendapat anugerah Pena Emas. Apa yang selama ini dilakukannya di Semen Indonesia ternyata diamati oleh para insan pers.

“Kami meyakini bahwa pers harus kuat, profesional, independen, dan kompeten. Dan kami berupaya berkontribusi sebisa yang kami lakukan untuk mewujudkan hal itu, tentu tanpa embel-embel ingin mendapat penghargaan,” ujar Dwi Soetjipto.

Menurut Dwi Soetjipto, pers mempunyai peran penting dalam setiap tapak perjalanan bangsa. Ketika masa perjuangan kemerdekaan, pers menjadi instrumen penting sebagai alat pemersatu bangsa dan pembangkit semangat perlawanan rakyat untuk melawan penjajah.

Melalui Harian Budi Utomo, Harian Utusan Hindia yang terbit di Surabaya dipimpin HOS Cokroaminoto, Harian Fadjar Asia yang terbit di Jakarta dipimpin Haji Agus Salim, Majalah Mingguan Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung dipimpin Ir Sukarno, pers di revolusi fisik ikut berjuang menggelorakan ajakan untuk menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Dwi Soetjipto mengatakan, ketika itu pers mengabarkan gelora perlawanan kepada penjajah yang kemudian mampu membuka kesadaran masyarakat tentang arti penting perjuangan merebut kemerdekaan. “Awal mula lahirnya pergerakan Boedi Utomo dan pergerakan-pergerakan lainnya dalam upaya membangun kesadaran untuk lepas dari penjajahan mustahil bisa tersebar jika tidak diberitakan oleh pers,” kata Dwi.

“Pers Indonesia memainkan peran vital dalam menumbuhkan kesadaran tentang arti penting kemerdekaan. Kesadaran sebagai bangsa tumbuh dalam alam pikiran para pejuang dan rakyat ketika itu antara lain karena peran pers. Kita, generasi saat ini, berutang budi kepada para insan pers yang ikut terlibat aktif dalam upaya menggelorakan semangat untuk merebut kemerdekaan,” lanjut Dwi Soetjipto.

Di masa perang mempertahankan kemerdekaan, insan pers juga turut membantu menggelorakan simpul-simpul perlawanan rakyat. Melalui caranya sendiri, pers berkontribusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang ketika itu baru seumur jagung dan sudah mendapatkan cobaan dengan adanya agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai republik ini setelah 350 tahun menguras kekayaannya.

Di era kekinian, pers sebagai pilar keempat demokrasi adalah pemain penting dalam pembangunan bangsa. “Pers memainkan peran sebagai penyeimbang dalam tatanan berdemokrasi. Pers bukan untuk ditakuti, karena justru dengan pers yang kuat, profesional, independen, dan kompeten; bangsa ini bisa semakin maju,” tutur Dwi.

Dalam konteks perusahaan, Dwi Soetjipto mengatakan, Semen Indonesia menyadari peran penting pers sebagai mitra dalam mengabarkan aksi korporasi dan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan kepada seluruh pemangku kepentingan.

“Dari enam aspek yang jadi perhatian perseroan selama ini, ada satu yang khusus bicara soal peningkatan citra perusahaan, enhancing company image. Aspek ini bersandingan dengan aspek-aspek lain seperti peningkatan kapasitas, pengelolaan energi, pelayanan optimal ke konsumen, dan manajemen risiko,” tuturnya.

Peningkatan citra perusahaan diharapkan bisa berdampak pada penjualan produk dan kinerja saham. Muara dari semua itu adalah peningkatan profitabilitas dan kinerja perseroan untuk memberi manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk negara sebagai pemegang saham pengendali.

“Kami juga senantiasa terbuka dalam mencermati karya jurnalistik yang memberi kritik kepada Semen Indonesia. Pers adalah pihak independen yang obyektif, dan kami berterima kasih ketika diberi kritik, karena itu berarti masukan untuk memperbaiki diri,” jelas Dwi.

Perseroan menilai, upaya peningkatan citra perusahaan sulit dilakukan tanpa dukungan pers. “Masyarakat bisa mendapat kabar perkembangan perseroan dari pers. Masyarakat juga percaya karena pers adalah pihak yang independen,” ujarnya.

Selama ini, perseroan aktif menjalin relasi dengan media. Secara berkala, perusahaan semen terbesar di Indonesia ini menggelar factory visit dengan mengundang media untuk mengetahui secara langsung proses produksi semen yang ramah lingkungan.

Perseroan merasa terbantu dengan relasi yang baik tersebut. Sepanjang tahun 2013, terdapat 2.764 kali berita positif atau 78,3%, berita netral 615 kali atau 17,4%, dan berita negatif sebanyak 153 kali atau 4,3%. “Program Media Relation yang bersifat humanis kepada personal pers yang telah dilakukan Perseroan telah berjalan dengan baik. Hal ini telah ikut meningkatkan company image yang otomatis ikut membantu promosi dan penetrasi penjualan,” kata Dwi.

Menyadari peran penting pers, perseroan kemudian ikut tergerak untuk berkontribusi dalam upaya peningkatan kompetensi jurnalis. Perseroan ikut menyukseskan Ujian Kompetensi Wartawan di tiga kota di Jawa Timur yang diikuti 151 wartawan.

Dwi Soetjipto mengatakan, kegiatan sertifikasi kompetensi wartawan perlu mendapat perhatian dari seluruh stakeholders. Wartawan yang kompeten menjadi kebutuhan semua pihak, bukan hanya kepentingan perusahaan media atau sang wartawan sendiri. Perusahaan atau entitas bisnis juga membutuhkan wartawan yang kompeten agar dalam menjalankan tugas peliputan, wartawan tersebut sudah memahami kaidah jurnalistik, seperti pemenuhan informasi yang berimbang atau cover both side.

“Justru jika wartawan tidak kompeten, ada potensi perusahaan menjadi pihak yang dirugikan, karena ada tahapan-tahapan jurnalistik yang dilewati. Hal ini bisa memunculkan peluang adanya berita yang tidak kredibel dan tidak sesuai fakta, yang tentu saja tidak hanya merugikan perusahaan yang diberitakan, tetapi juga kredibilitas perusahaan media tempat wartawan tersebut bekerja,” jelas Dwi Soetjipto.

Ketua Umum PWI Margiono mengapresiasi kiprah Semen Indonesia dalam upaya menjalin relasi yang baik dan profesional dengan insan pers. Semen Indonesia dinilai sebagai entitas bisnis yang mampu memandang nilai penting pers secara proporsional dan profesional.

“Perusahaan membutuhkan peningkatan citra, tapi tentu pers harus tetap obyektif. Saya salut dengan Semen Indonesia yang hubungannya dekat dengan media, tapi tetap proporsional dan profesional sesuai bidangnya. Saat dikritik lewat tulisan tidak reaksiner, dan menerima dengan lapang. Tidak banyak perusahaan yang bisa memahami media secara utuh seperti Semen Indonesia,” ujar Margiono.

Diketahui, penghargaan Pena Emas ini sudah berusia 40 tahun. Sudah diberikan kepada 35 tokoh 2 diantaranya dari swasta. Dwi Soetjipto memiliki konsistensi lebih panjang dibanding penerima penghargaan dengan penerima tokoh swasta sebelumnya. MUHAIMIN

Facebook Comments

About the Author