Published On: Rab, Jun 25th, 2014

Dumbek, Camilan Para Wali Yang Segera Tinggal Cerita

Meski dumbek adalah salah satu jajanan khas Tuban, namun bagi sebagian warga banyak yang tidak tahu. Terutama kalangan muda. Maklum, jajan dengan tekstur lembut yang dibungkus daun lontar ini, sekarang sudah mulai jarang ditemukan.

BERUSAHA BERTAHAN: Salah satu dapur dumbek di Dusun Kesamben Barat, Desa Kesamben Plumpang, yang hingga kini masih mengepul.

BERUSAHA BERTAHAN: Salah satu dapur dumbek di Dusun Kesamben Barat, Desa Kesamben Plumpang, yang hingga kini masih mengepul.

seputartuban.com-Padahal di eranya camilan berwarna coklat seperti gula Jawa yang menjadi rasa legitnya, sangat mudah dijumpai di setiap sudut wilayah Kabupaten Tuban.

Tak dipungkiri memang, satu per satu jajanan dan kuliner khas Bumi Ronggolawe, kian hari makin sulit ditemukan. Setelah oblok rajungan “menghilang”, kini yang segera menyusul raib adalah dumbek. Jajanan berbentuk bulat lonjong panjang dengan aroma harum semerbak ini kian langka saja.

Pada masa lalu, makanan dengan bahan dasar tepung beras, gula Jawa, dan dibungkus lontar itu merupakan salah satu jajanan wajib yang dulu menjadi primadona.

Konon dari cerita pembuatnya, bahwa jajanan yang menyerupai terompet itu sebagai camilan para wali. Selain sebagai makanan ringan, juga menjadi simbol dan pertanda apabila disajikan untuk tamu.

MASA LALU: Di eranya camilan berwarna coklat seperti gula Jawa yang menjadi rasa legitnya, sangat mudah dijumpai di setiap sudut wilayah Kabupaten Tuban.

MASA LALU: Di eranya camilan berwarna coklat seperti gula Jawa yang menjadi rasa legitnya, sangat mudah dijumpai di setiap sudut wilayah Kabupaten Tuban.

Kali ini, seputartuban.com berkesempatan melihat langsung proses pembuatannya di Dusun Kesamben Barat, Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang. Dapur Dumbek milik Sahenan, sedikit di antara yang tersisa, ternyata masih tetap mengepul. Sudah hampir 20 tahun dirinya membuatnya.

Mesti mengaku sangat sepi dan sedikit pesanan, namun lelaki 50 tahun ini tetap berusaha melestarikannya. Penjualannyapun sudah tidak banyak, hanya sekitar 4.000 biji per harinya. Tidak jarang apabila pesanan sepi, dirinya hanya membuat sekitar 500 biji saja. “Sebenarnya membuat dumbeg warisan dari kakek dulu. Saya membuat kalau ada yang memesan saja, ” ucap suami dari Sukariyem itu.

Terkait kendala, saat ini sangat sulit menemukan lontar sebagai pembungkusnya. Alasannya, daun pohon bogor itu kian habis dan sedikit yang mempunyai. Sekalipun ada, hanya sebagian warga di Desa Kepet, Kecamatan Semanding. “Sehari beli satu togor. Satu isinya 20 daun lontar. Harganya Rp 4 ribu, ” imbuhnya.

Semakin sedikitnya peminat dumbek, menurutnya, karena banyaknya jenis makanan cepat saji. Juga banyaknya makanan dengan bungkus yang menarik. Sedangkan kalau dumbek asli, harus dibungkus dengan daun lontar yang dibentuk kerucut. Lainnya, dianggap bahwa dumbek makanan desa dan kurang variasi.

“Kalau mau membuat variasi rasa biayaya tidak cukup kalau dijual, justru tidak laku kalau kemahalan, ” lanjutnya.

Sahenan yang mengaku sudah sejak tahun 1994 lalu menekuni membuat dumbek sangat bangga. Sebab, makanan tersebut konon cerita banyak filosofinya. Mulai lontar sebagai pembungkusnya, menandakan adanya sifat tawadhuk dengan sang kholik.

Ibarat daun lontar selalu menunduk tumbuhnya. Bentuknya juga unik, seperti tangga dari putaran kecil sampai besar. Ini ibarat, hidup harus berusaha dari hal kecil sampai besar.

Makanan dengan rasa manis, gurih dari tepunng beras yang dimasak itu sangat lembut dan kenyal. Tidak ada pewarna, borak atau zat bahaya lainnya. Menandakan bahwa sesama manusia harus saling rukun, kompka dan tidak boleh mengumbar kejelekan. Meski dianggap kuno atau kampungan, Sahenan akan tetap membuatnya.

“Tetap saya geluti saja. Berkah penjualannya sangat banyak. Sebiji saya jual ada yang Rp 500, Rp 1.000 dan Rp 1.500, tergantung besar dan rasanya, ” jelasnya.

Sampai saat ini, dirinya mengaku sangat kesulitan dalam mengembangkan usahanya. Mulai dari sedikitnya penjual yang mau menjajagkan dumbek, sampai terkikisnya makanan itu akibat varian camilan modern menjadi alasannya.

Tidak ada bentuk perhatian dan perhatian dari manapun. Padahal dumbeg bisa menjadi makanan khas Tuban. “Kalau bisa itu ada festival membuat dumbek. Atau dipamerkan, dilatih bagaimana agar bisa maju.” katanya getir. HANAFI

Facebook Comments

About the Author