Published On: Jum, Jun 27th, 2014

DPRD-Pemkab “Gegeran” Sanitasi Jalan

TUBAN

SEPERTI DANAU: Karena tidak anitasinya jalan raya Desa Mandirejo, Kecamatan Mereakurak, menjadi langganan banjir saat penghujan.

SEPERTI DANAU: Karena tidak anitasinya jalan raya Desa Mandirejo, Kecamatan Mereakurak, menjadi langganan banjir saat penghujan.

seputartuban.com–Hubungan Pemkab Tuban dan DPRD hasil pileg tahun 2009 yang masa khidmatnya akan segera berakhir tampaknya mulai tidak searah. Tengara retaknya komunikasi eksekutif-legislatif tersebut dipicu soal proyek rehab jalan yang tidak disertai pembangunan saluran air pada sisi kanan kiri.

Kaena pentingnya persoalan itu KOmisi D DPRD Tuban kemudian merekomendasikan setiap rehab maupun pembangunan jalan wajib ada sanitasinya. Sayangnya, solusi teknis agar jalan yang dibangun tidak cepat rusak karena genangan air saat hujan, hingga sejauh ini belum direspon oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pemkab Tuban sebagai leading sektor proyek itu.

“Karena tidak ada sanitasi otomatis saat musim penghujan banyak jalan yang kemudian berubah fungsi menjadi saluran air,” kata Ketua Komisi D DPRD Tuban, Rudi Hariyanto, Jumat (27/06/2014) siang.

Menurut dia, komisinya sering menyampaikan kepada dinas terkait pada saat rapat kordinasi, bahwa pembangunan jalan yang tidak disertai dengan pengadaan saluran air akan cepat rusak. Selain itu, antara jalan dengan tanah yang ada di sekitarnya lebih tinggi. Akibatnya,  air malah tumpah ke jalan pada saat musim hujan.

Yang paling, sambung Rudi, misalnya seperti jalan yang ada di Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak. Tiap kali musim hujan menjadi langganan banjir. Para pengguna jalan yang melintas haus ekstra hati-hati karena banyak lobang yang menganga tertutup air.

“Jalan yang ada di Merakurak itu kondisinya sudah sangat parah. Sebab air tidak bisa mengalir karena kanan kiri jalan kondisinya lebih tinggi. Selain itu juga air tidak bisa mengalir ke timur sebab jembatan yang ada sudah ditinggikan,” terang Rudi.

Terpisah, Kepala Dinas PU Pemkab Tuban Choliq Chunnasich, mengatakan saat ini sudah selesai dilakukan tender untuk pengerjaan jalan Merakurak tersebut.

“Akan kita tinggikan dan dibangun  diberi saluran air. Kemarin kita sudah lakukan survei ke lokasi. Memang benar jalan itu perlu adanya saluran air,” katanya.

Namun begitu, Choliq membantah jika faktor sanitasi dianggap sebagai satu-satunya pemicu.
Kerusakan lain juga karena faktor tanahnya yang labil atau mudah gerak.

Selain itu, jelas Choliq, pembangunan jalan itu menjadi prioritas pada program 2014 agar tidak semakin rusak kondisinya. Apalagi makin banyak kendaraan besar yang melintas di atasnya. Padahal kelas jalan tersebut jauh di bawah tonase kendaraan-kendaraan besar pengangkut material vital.

“Tapi karena terbentur anggaran yang ada, jadi tidak semua jalan yang kondisinya rusak bisa kita tangani,” tandas dia.  MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author