Published On: Ming, Jun 28th, 2015

DPRD Geram Pemkab Lemah Awasi Elpiji Melon

TUBAN

Elpijiseputartuban.com – Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban menganggap kinerja pengawasan elpiji 3 kg (melon) yang dilakukan Pemkab Tuban sangat lemah. Terbukti beberapa pekan terakhir harganya melambung tinggi, bahkan beberapa kawasan terjadi kelangkaan.

Kenaikan harga elpiji melon terjadi dibeberapa kecamatan mencapai Rp. 23 ribu lebih per tabung. Padahal sesuai dengan HET harga elpiji 3 kg sebesar Rp. 16 ribu.

Anggota Komisi B DPRD Tuban, Cancoko mengatakan rawan terjadi penyimpangan distribusi tingkat agen dan toko. “Saat Raker kemarin mereka beralasan tidak ada anggaranya, sehingga pengawasannya sangat lemah,” kata Cancoko, Sabtu (27/06/2015).

Atas kondisi ini, Komisi B berencana akan memanggil 15 agen resmi yang ada di Kabupaten Tuban dan juga tim pengawasan distribusi bahan pokok, barang-barang strategi dan penting yang diketuai oleh Sekda.

‎”​Bulan depan akan kami undang lagi 15 agen resmi di Kabupaten Tuban dan tim kabupaten terkait dengan LPG yang di Ketuai Pak Sekda untuk mencari jalan keluar permasalahan harga liquified petroleum gas (LPG) yang kian melambung,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, Farid Achmadi mengatakan, bahwa tim sudah melakukan koordinasi dengan pihak pertamina. Juli mendatang pasokan di Tuban akan ditambah, dari semula perbulan 120 ribu tabung, akan menjadi 180 ribu tabung perbulannya.

Selain itu juga akan membuka otlet di 4 SPBU di Kabupaten Tuban, seperti di SPBU Jenu, Sleko, Palang dan Apotik Budi. “Bila ada agen yang menjual elpiji diatas HET warga dapat melaporkan ke kita dan akan kita sampaikan ke pihak Pertamina,” kata Farid.

Selain menambah pasokan, tim juga akan melakukan operasi pasar. Diharapkan tidak terjadi permainan harga oleh agen maupun pengecer. Bila ada pelanggaran, maka akan ditindak sesuai dengan aturan yang ada, sebab elpiji adalah barang bersubsidi.

Terpisah, Sekda Tuban, Budi Wiyana menjelaskan permasalahan elpiji melon ini tidak semata-mata karena anggaran pengawasan. Namun juga disebabkan konsumsi elpiji banyak digunakan kalangan menengah atas. Sehingga suplay barang cepat habis karena daya konsumsi tinggi. “Sudah ada upaya melalui operasi pasar,” jawab Sekda Tuban.

Masih menurut Sekda, dana pengawasan sebenarnya sudah dianggarkan, namun masih dirasa kurang. Karena anggaran tersebut juga digunakan untuk melakukan pengawasan kebutuhan bahan pokok dan barang strategis lainya. “Kita akan ajukan penambahan, tetapi harus sesuai dengan rencana kerjanya. Saat ini dianggarkan sekitar Rp. 30 juta,” pungkas Sekda. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author