Published On: Kam, Des 11th, 2014

Divonis Bebas, Kejari Akan Digugat Anggota Polres Tuban

Share This
Tags

TUBAN

BERPOLEMIK : Anggota Polsek Soko sedang mengikuti sidang pelanggaran disiplin di ruang serbaguna Mapolres Tuban, Kamis (02/12/2010) dalam kasus penembakan Rambi

BERPOLEMIK : Anggota Polsek Soko sedang mengikuti sidang pelanggaran disiplin di ruang serbaguna Mapolres Tuban, Kamis (02/12/2010) dalam kasus penembakan Rambi

seputartuban.com – Bripka Wihariantono, anggota Polres Tuban yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Parengan dapat bernafas lega. Karena kasus penembakan terhadap Rambi (50), warga Desa Nguruan, Kecamatan Soko pada 2010 yang membelitnya saat bertugas di Polsek Parengan sudah diputus oleh Mahkamah Agung (MA), dirinya tidak bersalah dan divonis bebas.

Kuasa Hukum terdakwa, M. Sholeh, Kamis (11/12/2014) menjelaskan hasil putusan Peninjauan Kembali (PK) bahwa klienya diputus tidak bersalah dalam insiden penembakan tersebut. Karena pada saat kejadian, Senin (18/10/2010) sekitar pukul 12.00 WIB, yang saat itu masih berpangkat Briptu, dia menembak Rambi karena membela diri.

“Dengan keputusan ini, kita berencana akan menuntut balik terhadap Kejaksaan Negeri. Selain itu kita juga akan meminta agar dilakukan rehabilitasi terhadap klien saya dengan berdasarkan keputusan dari MA itu,” jelas Sholeh.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tuban lalu, terdakwa diputus tidak bersalah. Lalu Jaksa Penuntut Umum (JPU) melakukan kasasi ke MA dan hasilnya terdakwa divonis 1 tahun penjara. Kemudian terdakwa melalui kuasa hukumnya melakukan PK dan divonis bebas. Vonis majelis hakim pada Januari 2014, namun surat putusan diterima pada pekan kemarin.

“Saat ini saya menunggu kondisi mental dari klien saya, setelah benar-benar siap maka kita akan melakukan menuntut keadilan. Sebenarnya dari awal penyidik sudah mengetahui bahwa klien saya tidak bersalah, namun karena tuntutan warga akhirnya ia harus dikenai hukuman,” sambungnya.

Diketahui, peritiwa ini terjadi pada Senin (18/10/2010) lalu, berawal dari laporan warga yang mengeluhkan tindakan Rambi yang kerap merusak tanaman dan mengancam warga lain dengan parang. Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi berusaha mengamankan Rambi saat berada di rumahnya, siang sekitar pukul 12.00 WIB.

Melihat ada tujuh orang petugas mendatangi rumahnya, Rambi langsung marah dengan membawa parang miliknya. Tanpa basa-basi, dia berupaya menyabetkan parang yang dibawanya ke arah petugas.

Akibatnya, Briptu Endik Ima Kurniatullah terkena sabetan parang di bagian lengan dan punggungnya. Merasa terancam, petugas lainnya kemudian mengeluarkan beberapa tembakan peringatan ke udara namun tak dihiraukan oleh Rambi. Hingga akhirnya ditembak pada punggung kiri. Setelah sempat mendapatkan perawatan medis nyawanya tidak tertolong.

Personil Polsek Soko, yang melakukan penangkapan kepada Rambi dipanggil untuk menjalani siding pelanggaran displin anggota Polri di Aula Serbaguna Polres Tuban, Kamis (02/12/2010).

Tujuh anggota diantaranya Brigadir Wihariantono, Aiptu Sugianto, Aipda Karjono, Bripka Muktar, Brigadir Muhammad musiatin, Briptu M. Arif Sugianto, Briptu Endik Ima Kurniatullah serta AKP Nur Asyik (Kapolsek Soko saat itu). Sidang dilaksanakan secara maraton sejak jam 09.00 sampai 15.00 WIB.

Dari hasil persidangan tersebut terungkap perbedaan soal pelaku penangkapan. Versi Polsek Soko sesuai dengan pernyataan ataupun surat perintah sebanyak 7 personil diterjunkan kerumah Rambi. Namun pernyataan berbeda disampaikan keluarga korban penembakan (rambi). Terungkap sembilan personil turut menjalani proses penangkapan berdarah tersebut.

Sementara keluarga rambi yang dihadirkan adalah Suparman 30 (anak korban), Parinten 50 (istri korban) Kasmat 30 (tetangga), Bibit 27 (menantu korban) serta dampak 55 (saudara korban).

Diketahui, kasus ini bermula dari sengketa tanah antara Rambi dengan H. Sutikno atas lahan seluas 4 hektar. Perselisihan berujung ke Polsek Soko hingga melakukan penangkapan dan dengan alasan melawan petugas, Rambi ditembak dari belakang hingga akhirnya meninggal dunia. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author