Published On: Jum, Mei 30th, 2014

Dilema Pengrajin Tenun Gedok, Sudah Diambang Kepunahan

Share This
Tags

KEREK

NYARIS PUNAH : Proses pembelajaran menenun diwilayah Kecamatan Kerek

NYARIS PUNAH : Proses pembelajaran menenun diwilayah Kecamatan Kerek

seputartuban.com – Kondisi pengrajin tenun gedok di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban nampaknya sangat butuh perhatian. Karena hingga saat ini mereka kesulitan memasarkan hasil kerjainanya. Sehingga hal ini berdampak pada pendapatan. Pengrajin tenun bekerja saat menerima pesanan saja. Bahkan beberapa diantaranya beralih pekerjaan yang pendapatnya lebih baik. Diantaranya menjadi pengrajin batik gedok.

Menurut salah satu pengrajin, Ayem (52), warga Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban saat diwawancarai, Kamis (29/5/2014) mengatakan, saat ini semakin sedikit pengrajin tenun. Karena kesulitan memasarkan barang hasil kerjanya.

Padahal untuk membuat kain tenun ukuran 1 meter kali 2 meter itu membutuhkan waktu 1 minggu. “Kita kesulitan memasarkannya, sehingga banyak pengrajin yang memilih beralih profesi. Kalau tidak ada pesanan kita tidak berani membuatnya,” ungkap Ayem.

Kondisi yang tidak menentu ini membuat generasi muda enggan belajar menenun. Karena menganggap pekerjaan ini kurang menjanjikan. Dari sekitar 26 pengrajin tenun diwilayah Kecamatan Kerek sebagian besar sudah berusia lanjut. Karena mereka menikmati masa tuanya yang luang dengan menenun. “Tidak ada yang mau belajar untuk menenun, sehingga sekarang sangat sedikit sekali orang yang masih mau menenun,” katanya.

Untuk membuat 1 kain tenun itu membutuhkan benang 3 rol, dan prosesnya rumit dan lama. Pengrajin harus menata benang terlebih dahulu pada alat tenun, kemudian dilakukan proses menenun. Satu lembar kain tenun ukuran 1 meter kali 2 meter laku dijual seharga Rp 120 ribu, dan membutuhkan waktu 1 minggu dalam proses pembuatanya. “Untuk 1 lembar kain kita dapat untung Rp. 60 ribu, itupun kalau kainnya laku atau sudah ada yang memesan,” lanjut Ayem. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author