Published On: Sab, Jul 6th, 2013

Diduga Dampak Pemboran JOB PPEJ, Lahan Warga Muncul 7 Mata Air

Share This
Tags

MERAKURAK

seputartuban.com – Salah satu tanah milik warga Desa Sumber, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban bernama Asrori (72). Muncul 7 mata air baru pasca Pemboran Migas yang dilakukan oleh Joint Operating Body – Pertamina Petrochina East Java (JOB-PPEJ) di desa tersebut.

Sumber air JOB PPEJ

RESAH : Sumber air muncul pasca Pemboran JOB PPEJ

Saat dikonfirmasi di belakang rumahnya, Asrori menceritakan 7 mata air itu baru muncul sekitar 7 hari yang lalu. Sebelumnya, tidak pernah ada mata air ini. Sejak adanya aktifitas pemboran yang dilakukan oleh JOB PPEJ terdapat 2 sumber mata air. Salah satunya mata air keluar dari area sawah, tepat di belakang hanya berjarak sekitar 10 meter dari dinding rumahnya.

Kondisi ini mengkhawatirkan dirinya. Pasalnya mata air terus bermunculan. Mulanya hanya 2 kini menjadi 7 lokasi. Debit air terlihat kecil dan mengalir memasuki area sawah milik kakek beranak 2 itu. Warga resah, jika sewaktu-waktu debit air bertambah besar dan mengeluarkan zat berbahaya. Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, jika mengeluarkan lumpur seperti yang terjadi di Sidoarjo.

Lebih lanjut, Asrori mengatakan hingga saat ini belum menerima bantuan dari JOB PPEJ. Karena baru dilakukan pemeriksaan lokasi sumber air. “Kemarin diperiksa dan diberi tanda saja, itu baru 5. Sekarang nambah lagi 2. Saya takut seperti lumpur Lapindo,” katanya.

Akibat keluarnya air yang memenuhi sawah berukuran 20 Meter X 6 Meter miliknya membuat gagal panen Jagung. Karena sawahnya dipenuhi air dan tanahnya tidak bisa mengering. Padahal, satu-satunya penghasilan keluarganya hanya mengandalkan dari hasil sawah itu. Asrori juga mengungkapkan, suara bising dari mesin pemboran  juga sangat mengganggu.

Pasalnya, bila malam hari suara semakin besar dan menggangu waktu istirahat. Dirinya sudah melakukan protes terkait ini. Namun hanya melakuka koordinasi dan berjanji memberikan bantuan. “Sampai saat ini sepeserpun tidak ada perhatian pada saya. Saya sudah tua, hanya bisa bertani. Kalu sawahnya begini (penuh air) saya tidak bisa menanam, ” ujarnya.

Terpisah, Fas Field Admint Superintendent JOB.PPEJ Pertamina, Basit Syarwani saat dikonfirmasi mengatakan, air yang dikeluar dari mata air itu tidak membahayakan. Pihaknya menganggap air itu seperti sumber air pada sumur dan sungai.

Disoal kadar air, pihaknya mengatakan tidak ada zat dan kadar berbahaya. Bahkan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan dari air tersebut. Dan untuk bantuan terhadap warga yang terkena dampak pengeboran sudah dilakukan kesepakatan, akan diberi bantuan. “Tidak bahaya itu, hanya sepeerti air biasa. Kita baru koordinasi dengan warga untuk bantuannya,” singkatnya. (han)

Facebook Comments

About the Author