Published On: Kam, Mei 21st, 2015

Ribuan Guru Madrasah Tuban 5 Bulan Tak Digaji

TUBAN

illustrasi: google image diolah

illustrasi: google image diolah

seputartuban.com-Fakta tidak manusiawi menimpa guru madrasah berstatus honorer di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban.

Ribuan guru madrasah yang nasibnya tidak jelas itu makin terpuruk karena sudah lima bulan ini atau sejak Januari 2015 lalu tidak digaji.

Sejumlah guru madrasah yang ditemui di tempat berbeda seputartuban.com sepanjang sepekan terakhir mulai Kecamatan Singgahan, Montong, Merakurak, Kerek, Tuban, Plumpang dan Kecamatan Rengel, kompak menyatakan kekecewaannya terhadap pelanggaran kemanusiaan yang membuat mereka cuma bisa pasrah.

“Sudah gajinya tak seberapa diutang pula. Tapi mau protes pada siapa kami-kami ini tidak tahu. Apalagi kami tidak pandai melakukan protes. Paling-paling kalau ada yang ngajak demo ya ngikut aja,” ungkap Halimatus, seorang guru madrasah di Kecamatan Plumpang, disamping rekan senasib lainnya yang ditemui, Kamis (21/05/2015) siang.

Senada dengan Halimatus, guru madrasah berstatus honorer lain di Kecamatan Tuban dan Merakurak, juga harus pasrah pada kondisi sungsang.

Ketika ditanya apa perlawanan yang akan dilakukan agar hak gajinya segera dicairkan, seorang guru madrasah cewek berwajah remaja ini hanya tersenyum kecut.

“Apa ya? Mau mogok ngajar juga tidak menyelesaikan masalah. Pasrah mungkin jalan terbaik,” katanya sembari menjelaskan terkatung-katungnya gaji ini semata karena dana bantuan operasional sekolah (BOS) hingga kini belum cair.

Sementara mayoritas lembaga madrasah di Kabupaten Tuban belum punya sumber dana lain untuk membayar gaji guru dan biaya operasional pendidikan.

Sejumlah kepala madrasah yang ditemui tak menampik jika guru-guru di bawah atap sekolah yang dipimpinnya sejak Januari hingga Mei 2015 belum menerima gaji. Alasannya, dana BOS yang sebagian digunakan untuk gaji guru belum cair.

“Imbas belum cairnya dana BOS juga menimpa sekolah secara keseluruhan. Sudah lima bulan ini kami harus cari utangan untuk menutup biaya operasional sekolah,” keluh sejumlah kepala madarsah di Kecamatan Merakurak dan Montong.

Otomatis, sambung seorang kepala madrasah di Kecamatan Singgahan, beban yang ditanggung sekolah makin berat mengingat harus mengeluarkan dana ekstra untuk pelaksanaan ujian.

“Coba saja lembaga atau instansi lain bila biaya operasionalnya tidak cair saja sebulan saja. Apa yang akan terjadi? Kita semua sudah bisa membyangkan sendiri. Pemerintah harus lebih bijak terkait masalah ini,” tutur MH seorang kepala madrasah di kecamatan belahan barat Kabupaten Tuban ini.

Kasi Penma Kantor Kemenag Tuban, M Muhlisin Mufa, berkilah telatnya gaji guru madrasah itu masih menunggu perubahan akun dari 57 bansos ke akun 52 bantuan operasional sesuai dengan perintah Kementerian Keuangan. Saat ini masih dalam proses di tingkat kementerian.

“Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa, sama-sama menunggu dari kementerian,” tegas dia dihubungi terpisah.

Namun begitu, Muhlisin menyatakan kondisi force majeure ini segera berakhir mengingat Kementerian Agama sedang berusaha untuk mempercepat proses pencairan dana BOS yang sudah telat lima bulan tersebut.

Disebutkan, pada tahun anggaran 2015 ini di Kabupaten Tuban untuk MI ada sebanyak 25.788 siswa. Setiap siswa menerima dana BOS sebesar Rp 800 per tahun yang totalnya Rp 20.630.400.000.

Sedangkan MTs ada sebanyak 15.799 siswa. Setiap siswa memperoleh bantuan sebesar Rp 1 juta per tahun, sehingga totalnya mencapai Rp. 15.799.000.000. Untuk tingkat MA ada sebanyak 5.822 siswa. Setiap siswa memperoleh Rp. 1,2 juta per tahun atau totalnya Rp 6.986.400.000.  MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author