Published On: Rab, Apr 1st, 2015

Di Tuban Kasus Bayi “Berumur Pendek” Meroket

TUBAN

 ENDAH NURUL: Pada tahun 2013 Kabupaten Tuban menempati posisi enam  untuk kematian bayi dan ibu se Jawa Timur.


ENDAH NURUL: Pada tahun 2013 Kabupaten Tuban menempati posisi enam untuk kematian bayi dan ibu se Jawa Timur.

seputartuban.com-Tingginya angka kematian bayi dibanding dengan ibu melahirkan yang berhasil diselamatkan, membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tuban mengemban tanggung jawab baru.

Sejumlah kegiatan penyuluhan yang intensitasnya terus digenjot di kawasan kecamatan-kecamatan pinggiran Kabupaten Tuban, seolah tak berbanding lurus dengan meningkatnya kematian bayi.

Data yang diperoleh seputartuban.com dari Dinkes Tuban, menyebtukan tingkat kematian bayi awal lahir pada tahun 2013 mencapai 155 bayi.

Angka ini meningkat menjadi 186 kasus di tahun 2014. Sementara jumlah ibu melahirkan yang meninggal tahun 2013 ada 12 orang dan tahun 2014 menurun menjadi 10 orang

Diprediksi, catatan bayi “berumur pendek” akan semakin panjang jika tidak segera dilakukan penyuluhan dan pemahanman kepada masyarakat.

“Sekarang ini yang masih tinggi adalah angka kematian bayi,” kata Sekretaris Dinkes Tuban Endah Nurul sembari memaparkan tabulasi data angka kematian bayi kepada seputartuban.com di kantornya, Rabu (01/04/2015) siang.

Menurut dia, salah satu faktor yang mempengaruhi kematian bayi diantaranya lahir dalam kondisi tidak normal dan kekurangan gizi. Hal lain yang sangat berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup bayi adalah pendarahan saat ibu menjalani persalinan.

”Umumnya para ibu yang akan menjalani proses melahirkan ketakutan sehingga tekanan darahnya menajdi tinggi,”ujar Endah.

Dia mengatakan, hal yang tak kalah pentingnya terkait kematian bayi dan ibu saat melahirkan adalah tingkat kepercayaan keluarga pasien.

Banyak keluarga pasien yang terlalu lama memutuskan untuk membawa ibu kerumah sakit saat bidan dan tenaga medis lainnya merekomendasi, dan menyarankan agar pasien dirujuk ke rumah sakit.

“Saat tenaga medis sudah menyarankan untuk dirujuk namun pihak keluarga masih menunggu dan memutuskan “iya”. Setelah dibawa ke rumah sakit sudah dalam posisi terlambat. Yang terjadi para medis harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan pasien saat perjalanan ke rumah sakit,” papar perempuan berwajah ayu ini.

Realitan inilah yang kemudian membuat Dinkes Tuban harus bekerja lebih untuk memberikan pelatihan, penyuluhan serta pendekatan terhadap ibu dan keluarga untuk proses persalinan.

Sosialisasi itu, sebut Endah, sudah berjalan setahun yang lalu pada semua kecamatan yang ada di Kabupaten Tuban. Penyuluhan terkait ibu hamil tesebut diduplikasi dari pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan minyak di Bojonegoro.

Pelatihan disasar kepada masyarakat Kecamatan Soko, Rengel, Semanding hingga Kecamatan Palang yang merupakan wilayah lintasan pipa perusahaan minyak tersebut.

Endah menungkapkan, pada tahun 2013 Kabupaten Tuban menempati posisi enam  untuk kematian bayi dan ibu se Jawa Timur.

Sekadar pengetahuan, di Kabupaten Tuban tercatat ada 18.088 ibu hamil pada tahun 2013. Yang mengalami komplikasi kehamilan sekitar 3.043 kasus dengan ibu meninggal 12 orang.

Kemudian tahun 2014 tercatat ada 18.072 ibu hamil dan yang mengalami komplikasi sebanyak 3.347, dengan korban meninggal 12 ibu saat melahirkan.  WANTI TRI APRILIANA

Facebook Comments

About the Author