Published On: Rab, Jul 16th, 2014

Di Tuban Marak Dendeng “Bodong” Serta Mamin “Wenteran”

TUBAN

TAK MAU KECOLONGAN: Petugas dari Disperpar saat melakukan razia pada salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tuban, Selasa (15/07/2014) pagi.

TAK MAU KECOLONGAN: Petugas dari Disperpar saat melakukan razia pada salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tuban, Selasa (15/07/2014) pagi.

seputartuban.com-Perayaan Idul Fitri yang sudah di depan mata, masyarakat diimbau  kian waspada dan teliti membeli barang kebutuhan sehari-hari. Termasuk makanan dan minuman (mamin) untuk menu kuliner di hari kemenangan mendatang.

Dari hasil serangkaian razia pasar yang dilakukan Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Pemkab Tuban, ditemukan masih banyak beredar mamin yang dindikasikan berbahaya untuk dikonsumsi masyarakat.

Yang mengejutkan, dalam sasar pasar itu ditemukan aneka kue dan makanan yang dicurigai menggunakan zat pewarna kain atau wenter, serta dendeng tanpa label halal. Selain juga banyak dijumpai masa edar aneka jajan yang sudah kadaluwarsa.

Kepala Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Bidang Perdagangan, Disperpar Tuban Sunaryo, mengatakan razia pasar dilakukan guna mengantisipasi dan menekan peredaran mamin berbahaya yang diindikasikan masih banyak dijual di pasaran.

SASAR PASAR: Diduga masih banyak beredar mamin tak layak konsumsi beredar di Kota Tuban.

SASAR PASAR: Diduga masih banyak beredar mamin tak layak konsumsi beredar di Kota Tuban.

Menurut dia, dari sasar pasar yang dilakukan Selasa (15/07/2014) pagi, masih ditemukan beberapa produk yang dianggap tak layak jual. Diantaranya jenis aneka kue yang diindikasi ada zat pewarna dari kain dan sudah expired, makanan ringan kuping gajah, roti sisir yang kemasan dan isinya sudah rusak.

“Kita tidak mau kecolongan. Karena pada tahun sebelumnya banyak ditemukan peredaran mamin yang tak layak jual. Hal ini sering kali terjadi. Tidak hanya jelang lebaran saja,” tegas Sunarjo, Rabu (16/07/2014).

Dikatakan, sebagian besar produk tidak layak konsumsi tersebut berupa makanan dan minuman ringan. Produk yang beredar tanpa label atau sudah expired dikuwatirkan dapat membahayakan masyarakat yang mengkonsumsi.

“Jika makanan tidak memiliki label kadaluarsa, tentu konsumen tidak pernah tahu apakah makanan itu layak konsumsi apa tidak. Makanya yang seperti ini patut diwaspadai,” papar Sunaryo.

Selain tanpa label, imbuh dia, sejumlah produk makanan yang ditemukan gandung rodamin (zat yang terdapat pada pewarna textil) sangat berbaya. Semestinya tidak dicampur denga bahan makanan.

Sunaryo menjelaskan, dalam konsentrasi yang besar pewarna (rondamin) makanan di dalam tubuh akan meningaktkan gangguan pencernaan. Dan dalam jangka panjang mampu memicu kangker. Sementara ini, petugas belum melakukan penyitaan terhadap barang tidak layak tersebut.

Petugas hanya sebatas memberikan teguran kepada pedagang. Tapi jika dalam sidak selanjutnya masih dijumpai barang tidak layak konsumsi baru akan disita.

Berkaitan itu, Sunaryo mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat membeli mamin, apalagi di bulan ramadhan seperti sekarang ini. Peredaran makanan yang beraneka ragam tanpa label yang jelas,  terkadang membuat konsumen tidak menyadari bahayanya.

”Karena biasanya pada bulan puasa dan sambut hari raya Idul Fitri produk-produk baru banyak beredar. Maka konsumen dituntut harus cerdas dalam memilah sebelum memilih,” pesan Sunaryo.  AMIN, HANAFI

Facebook Comments

About the Author