Published On: Sen, Jan 11th, 2016

Data Ruwet Tetap Dicairkan, Kemenag Salahkan Santri Madin

TUBAN

ilustrasi uang

ilustrasi uang

seputartuban.com – Janji Kementrian Agama Kab. Tuban yang akan melakukan validasi data santri hanya jadi isapan jempol belaka. Karena pencarian dana Bantuan Operasional Daerah (Bosda) Madrasah Diniyah (Madin) Tahap II tidak ada perubahan data santri. Hanya beberapa Madin tidak dapat mencairkan dana karena alasan tertentu terkait kelembagaanya.

Kepala Bidang Pd. Pontren, Kantor Kemenag Tuban, Siti Maulidiah mengatakan Kamis (3/12/2015) mengatakan pihaknya melakukan validasi data agar tidak ada santri “siluman”.  Dana yang dicairkan sesuai dengan jumlah santri di lembaga Madin. “Karena pemutakhiran datanya belum selesai. Untuk menghindari ketidak sesuaian data jumlah penerima santri,” jelasnya,  katanya waktu itu.

Validasi itu dilakukan karena seputartuban.com pada Agustus 2015 memberitakan temuan dugaan santri fiktif di kawasan Kecamatan Soko. Madin dengan data santri 200 anak, namun kenyataanya hanya memiliki kurang dari 100 santri. Meski demikian lembaga tersebut tetap menerima Bosda Madin tahap I sebanyak 200 santri. Kondisi serupa diduga juga terjadi di sejumlah kecamatan lainya.

Fakta diatas nampaknya seakan menjadi angin lalu, Dana Bosda Madin tahap II tetap dicairkan tanpa ada revisi jumlah santri. Hal itu diakui Mantan Kasi Haji dan Umrah itu, secara tidak langsung dia menyampaikan belum melakukan pengurangan santri “siluman:.

“Saat ini kami baru melakukan penertiban bagi yayasan yang secara administratifnya tidak memenuhi persyaratan atau kriteria yang ditentukan oleh Kemenkumham. Sedangkan untuk perampingan data santrinya masih diupayakan,” terangnya, Sabtu (9/1/2016).

Menanggapi dugaan kuat data santri awu-awu, dia belum dapat melakukan penertiban. Karena dia beralasan data santri tidak sama tiap semester. Hal ini disebabkan Madin merupakan pendidikan bersifat non formal.

Hal itu berdampak kepada minat santri untuk mengikuti rangkaian pendidikanya sampai dengan selesai hingga dikatakan lulus rendah. Tidak seperti di pendidikan formal, siswa mengikuti hingga selesai tahun ajaran. “Bukan yayasanya yang tidak tertib, tapi santrinya yang tidak tertib mengikuti rangkaian proses pembelajaran. Sehingga jumlah data santrinya tidak dapat dipastikan antara jumlah santri yang masih mengikuti rangkain pembelajaran dan yang sudah tidak mengikuti,” kelitnya.

Dari hasil koordinasi yang dilakukanya, sengkarut permasalahan data santri Madin, akan diusulkan ke pemerintah pusat, menjadi pendidikan formal.

“Saat ini kami masih mengupayakan untuk mengajukan ke pemerintah pusat. Agar dilakukan kajian tentang jenjang pendidikannya supaya disama ratakan dengan pendidikan formal lainya. Sehingga permasrmasalahan seperti ini tidak semakin berlarut-larut,” katanya.

Kepala Bidang TK/SD, Disdikpora Kabupaten Tuban, Sutarno, menegaskan 3 lembaga Madin tidak akan menerima Bosda Madin karena tidak memenuhi ketentuan. Yakni Madin Daruttauhid, Desa Banjarejo, Kecamatan Bancar. Madin Miftahusshalam, Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang dan Madrasah Salafiah, Langitan, Widang.

Pencairan dana Bosda Madin tahap II sudah dilakukan Selasa (22/12/2015) melalui rekening masing-masing lembaga Madin. Dengan jumlah total mencapai Rp. 3.207.240.000 kepada 286 lembaga kategori ula dan Rp. 2.541.000.000 untuk 103 lembaga kategori Wustho.

“Perampingan dan pemutakhiran datanya masih kami laksanakan. Ini tidak menutup kemungkinan bahwa seluruh data yang saat ini sudah ada di kami akan berkurang lagi. Karena itu tergantung temuan hasil data dan survey dilapangan,” ungkapnya.

Dugaan santri fiktif Madin sempat akan ditelusuri aparat Polres Tuban sejak Agustus 2015. Namun hingga dana dicairkan tahap II lalu tidak ada tindakan pemeriksaan para pihak terkait. Bahkan Kepala Disdikpora Pemkab Tuban, Sutrisno akan memproses hukum bagi Kepala Madin yang ketahuan memalsukan data santrinya. ”Kepala sekolahnya kita pidanakan. Sementara lembaga madin bersangkutan akan kita coret dari daftar penerima dana Bosda Madin berikutnya,” katanya, Selasa (8/9/2015) . ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author