Published On: Kam, Jun 5th, 2014

Darmono, Potret Nyata Ironi Kemiskinan di Bumi Wali

Ada sebuah ungkapan lama yang hingga kini seolah tak bisa “dilogikakan” dengan pelbagai program. Kemiskinan. Ungkapan ini kian menegaskan, dimanapun sebuah kemajuan niscaya akan menyimpan ironi di bawah telapak kakinya. Bisa jadi, kemiskinan akan senantiasa berjalan beriringan dengan kemajuan peradaban manusia itu sendiri.

TAK BERDAYA: Darmono bocah lelaki 14 tahun yang tinggal di Dusun Tegal Peron, Desa Padasan, Kecamatan Kerek, mungkin hanya sedikit dari keluarga miskin yang luput dari pengawasan pemerintah daerah.

TAK BERDAYA: Darmono bocah lelaki 14 tahun yang tinggal di Dusun Tegal Peron, Desa Padasan, Kecamatan Kerek, mungkin hanya sedikit dari keluarga miskin yang luput dari pengawasan pemerintah daerah.

seputartuban.com-Dan, Darmono bocah lelaki 14 tahun yang tinggal di Dusun Tegal Peron, Desa Padasan, Kecamatan Kerek, mungkin hanya sedikit dari keluarga miskin yang luput dari pengawasan pemerintah daerah.

TANGGUNG JAWAB SIAPA: Darmono dan ibunya Tingah yang sehari-hari di rumah yang jauh dari layak.

TANGGUNG JAWAB SIAPA: Darmono dan ibunya Tingah yang sehari-hari di rumah yang jauh dari layak.

Kemiskinan memang menyesakkan bagi Karsimin dan Tingah, orang tua Darmono. Beban hidup sepasang suami isteri yang sehari-hari menggantungkan nasib dengan menjadi buruh tani ini kian bertambah, setelah Darmono anak keempat dari lima bersaudara itu, sudah empat tahun menderita sakit. Hidupnya yang semrawut memaksa Karsimin dan Tingah harus menerima keadaan. Kondisi tempat tinggalnya pun sangat memprihatinkan.

Saat seputartuban.com bertandang ke rumahnya, Darmono yang seharusnya berada di dunia kanak-kanaknya yang ceria dan berada di bangku sekolah, hanya mondar-mandir dan memandang pebuh kuatir kepada orang yang baru dikenalnya.

Karsimin, ayah Darmono, buru-buru menuturkan kronologi penyakit yang telah empat tahun menggerogoti tubuh anaknya. Saat Darmono berusia 10 tahun ia menderita sakit panas. Setelah diobatkan ke bidan penyakit panasnya justru mengakhibatkan kelumpuhan. Setiap hari, anak tersebut dibiarkan tinggal di rumah sendirian. Karena sudah tidak ada keluarga lain yang merawat.

“Awalnya sakit panas, sekarang malah jadi lumpuh. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada biaya. Kalau kami bekerja, ya kita tinggal sendirian di rumah,” kata Karsimin getir.

Melihat kondisinya saat ini, sebenarnya Darmono masih ada kemungkinan untuk sembuh. Hal itu dilihat dari beberapa sendi kaki dan tangan masih berfungsi. Namun pihak keluarga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab tidak ada biaya untuk berobat dan juga tidak ada uluran tangan dari siapapun. Bahkan, negara yang harusnya hadir cuma narasi indah pelipur lara bernama kemakmuran.

“Gimana mau berobat, Mas. Untuk makan saja tidak ada. Kita serahkan kepada Allah saja. Selama ini tidak ada bantuan dari manapun, pemerintah pun tidak pernah membantu,” keluhnya.

Menurut penuturan para tetangga, sebelumnya kakak Darmono yang nomor dua saat itu juga punya penyakit yang sama tapi meninggal saat berusia 17 tahun.

Kemiskinan di pundak keluarga Darmono adalah realitas hitam yang harus dilunturkan perlahan dengan cucuran keringat dan regangan nyawa. Bagi sebagian orang, mungkin kemiskinan tak lebih dari sebuah sampah dan omong kosong.

Bilapun hilang maka tak lebih dari sekadar angka statistik. Laporan tahunan, keberhasilan ekonomi dan kemajuan tak berarti apa-apa bila dibenturkan dengan kelaparan akibat kemiskinan. Kelaparan adalah hari ini, sedangkan statistik adalah laporan yang moga-moga benar adanya.

Kini yang menjadi pertanyaan, seberapa efektif sejatinya program pengentasan kemiskinan mampu mengangkat kondisi orang miskin menjadi tidak miskin. Atau sekurang-kurangnya di atas garis kemiskinan?

Dalam sudut pandang agamapun, kemiskinan adalah musuh utama. Karena kemiskinan selalu selaras dengan keterbelakangan, yang menjadi spirit dalam kehidupan. Kemiskinan adalah wujud pelemahan dan proses kematian. Tak tahu arah dan sebab letupan ini sepontan muncul.
Kemiskinan bisa jadi wujud ketidakadilan, karena tak akan menjadi pilihan bagi semua orang. Padahal wujud kebebasan,  salah satunya tentu bebas dari kemiskinan dan keterbelakangan.  MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author