Published On: Ming, Jun 15th, 2014

Cacat Kakinya Sejak Lahir, Wantikah Tidak “Patah Arang”

Share This
Tags

KEREK

Wantikah Kerek

TETAP SEMANGAT : Kondisi wantikan yang cacat kaki kirinya sejak lahir

seputartuban.com – Wantikah (22), putri pasangan Panito (51) dan Darkini (47), warga Desa Sidonganti, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban ini mengalami kelainan. Sejak lahir kaki kirinya tidak normal.

Dia sudah lulus Sekolah Dasar (SD) tahun 2011. Sebenarnya dia masih memiliki keinginan melanjutkan sekolahnya. Karena keterbatasan fisik dan ekonomi orang tuanya, keinginan itu harus diurungkan.

Ditengah segela keterbatasanya, dia masih ingin berkembang. Keinginan kuat menjadi seorang penjahit yang mampu mendapatkan penghasilan untuk membantu ekonomi keluarganya.

“Sebenarnya saya pingin sekolah, tapi tempatnya jauh dan orang tua saya tidak punya biaya. Kondisi saya seperti ini, nanti malah merepotkan orang tua saya saja,” ungkap Wantikah saat ditemui dirumahnya, Jum’at (13/6/2014).

INGIN BERKEMBANg : Wantikah memiliki kemampuan menjahit secara manual dengan baik, dia berharap memiliki mesin jahit untuk bekerja membantu ekonomi keluarganya

INGIN BERKEMBANg : Wantikah memiliki kemampuan menjahit secara manual dengan baik, dia berharap memiliki mesin jahit untuk bekerja membantu ekonomi keluarganya

Gadis 4 bersaudara ini tiap hari hanya dirumah saja. Untuk mengisi waktu, dia menjahit dengan cara manual karena tidak memiliki mesin jahit. Diantaranya mendaur ulang kain bekas sarung dibuat baju.

Awalnya ia belajar dari tetangganya yang seorang penjahit. Meskipun hanya dengan menggunakan jahitan tangan, tetapi hasilnya beda tipis dengan hasil mesin. Sehingga banyak diantaranya teman dan tetangganya meminta dibuatkan rok atau baju dengan upah Rp. 5.000 untuk pengerjaan selama sehari.

“Saya pingin penjahit mas, tapi saya tidak punya mesin jahitnya. Mau minta dibelikan orang tuaku tidak punya uang. Setiap harinya rata-rata 2 orang yang minta dibuatkan baju,” imbuhnya.

Terpisah, Kaur Kesra Desa Sidonganti, Kustur saat ditemui mengatakan pemerintah desa berharap ada orang yang mampu membantu warganya. Sebab kehidupan keluarganya sangat memperihatinkan.

“Anak itu punya bakat menjahit, namun mau gimana lagi orang tuanya tidak punya biaya untuk membelikan mesinnya. Selama ini belum ada yang pernah membantu mereka,” tegasnya.

Diketahui, saat ini Wantikah tinggal bersama kedua orang tuanya dan 3 saudaranya yaitu kakaknya Atunik, dan kedua adiknya Abdul Jail dan Dina Nur Arisa. Kedua orang tuanya setiap hari bekerja sebagai petani penggarap dilahan milik perhutani (pesanggem) yang penghasilannya dipakai untuk makan sehari-hari saja kurang. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author