Published On: Jum, Jul 26th, 2013

Budidaya Jamur Tiram Prospek Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Share This
Tags

KEREK

seputartuban.com – Untuk menjalin hubungan baik dan saling menguntungkan dikedua belah pihak, kamis (25/07/2013) PT United Tractors Semen Gresik (PT UTSG) menyerahkan bantuan bibit jamur tiram beserta rumahanya, bertempat di Dusun Sumberejo, Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban.

utsg.

Direktur Utama PT UTSG, Susilo Kartri Winarno saat menyerahkan bantuan

Penerima bantuan jamur tiram

Penerima bantuan jamur tiram

Warga ring 1 perusahaan penyedia bahan baku PT Semen Indonesia ini membantu warga melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) tahun 2013 ini, yang ditujukan untuk meningkatkan perekoniman warga ring 1 melalui wirausaha swasembada ini.

Program swasembada jamur tiram ini diawali 2011 di desa Pongpongan Kec. Merakurak, Desa Tlogowaru Kec. Merakurak dan Desa Karangasem Kec. Jenu. Pada 2012 dan 2013 budidaya Jamur tiram ini dikembangkan ke desa-desa ring1  lainya. Seperti Desa Karanglo, Kec. Kerek, Desa Tobo, Kec. Merakurak dan Desa Mliwang, Kec. Kerek.

Sementara untuk tahun 2013, penyerahan bantuan usaha budi daya jamur ditempatkan di Dusun Sumberjo, Desa Sumberarum, Kec. Kerek. Dusun Koro, Desa Pongpongan dan Desa Sugihan, Kec. Merakurak.

Dipilihnya program bantuan budi daya jamur tiram merupakan hasil kesepakatan bersama dari pertemuan perwakilan warga 9 desa ring 1 dengan pihak Bina Lingkungan PT UTSG, agar tercipta dampat positif dari perusahaan untuk masyarakat.

Budidaya Jamur Tiram memiliki prospek ekonomi yang baik serta permintaan pasar yang selalu tinggi. Hal ini akan memudahkan pembudidaya jamur untuk memasarkanya. Jamur Tiram merupakan produk komersial warga dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana.

Salah satu penerima bantuan, Sonia (20), warga Dusun Sumberejo, Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, menuturkan aktivitas barunya merawat jamur sangat bermanfaat.  “ya senang sekali saya mendapatkan bantuan ini, kami bisa bekerja dan bisa menambah pendapatan untuk kebutuhan hidup,” ungkapnya.

Bantuan hibah jamur tiram 2.000 bibit diterimakan kepada warga, beserta rumahannya yang digunakan untuk merawat jamur. Sekitar 4 minggu mulai dari pembibitan, jamur siap dipanen. Asalkan dirawat dengan baik dan memperhatikan kelembaban udara.

Setelah dipanen, jamur tiram tetap tumbuh dengnan masa panen 4 bulan, dan setiap harinya bisa menghasilkan 5 hingga 6 kg sekali panen. Hasil panen jamur tiram ini, perkilo-gramnya dijual Rp. 12.500. Sementara setiap rumahan yang dihibahkan kepada warga, dikelola oleh 3 warga sebagai satu kelompok petani jamur, dan saat ini budidaya jamur tiram sudah menyebar di 9 desa di wilayah ring 1 PT UTSG.

Direktur utama PT UTSG, Susilo Kartri Winarno, mengatakan program budi daya jamur tiram ini sudah dilakukan sejak 3 tahun. Dan PT UTSG selalu mendampingi warga dalam proses merawat jamur tiram hingga pemasarannya. Salah satunya adalah membina membuat neraca keuangan usaha, sehingga bisa tumbuh besar dan mandiri. “dan yang paling penting lagi mereka bisa membawa dan mengajak rekan-rekanya untuk bekerja dengan sistem yang sama. Sehingga masyarakat bisa berwirausaha dengan spesialisasi jamur,” katanya.

Selain budidaya jamur tiram, PT UTSG juga ada program peternakan sapi, yang bekerja sama dengan PT Semen Indonesia, dengan cakupan lebih luas. Dengan prioritas penerima sesuai program Pemkab Tuban.

Bantuan budi daya jamur tiram ini diserahkan langsung oleh Dirut PT UTSG Ir. Susilo Kartri Winarno kepada kelompok petani jamur. Acara itu sendiri juga dihadiri oleh para petani jamur, para Kepala Desa, Muspika Kecamatan Kerek dan Camat Merakurak. (pit)

Facebook Comments

About the Author