Published On: Sen, Jan 25th, 2016

Budidaya Jamur Tiram Berkembang Ditengah Keterbatasan

KENDURUAN

BERGELIAT : Sejumlah pekerja sedang melakukan pengepakan baglog untuk tempat budidaya jamur tiram

BERGELIAT : Sejumlah pekerja sedang melakukan pengepakan baglog untuk tempat budidaya jamur tiram

seputartuban.com – Meski sudah mulai menjamur di sejumlah kecamatan di Kabupaten Tuban, budiaya jamur tiram masih tergolong sepi diwilayah Kecamatan Kenduruan. Selain faktor kondisi wilayah yang realtif sepi, kendala budiaya menjadi penyebab lain masyarakat enggan membudidayakanya.

Namun berbeda bagi Muklisin (31), warga Desa Tawaran, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban. Dengan telaten dan berbekal ilmu dari berbagai sumber ia kini mulai menikmati hasil jerih payahnya. Hasil budidaya jamur tiram sudah dijual hingga keluar Tuban.

Budidaya yang dimulai tahun 2013 lalu saat ini mulai berkembang. Bermula hanya dengan 100 baglog (Kantongan Bibit Jamur). Kini telah memiliki 3500 baglog tanaman jamur tiram. Kondisi wilayah yang realtif sepi tidak pernah menyurutkan semangat Muklisin.

“Saya bisa panen hingga 10 Kg sampai 15 Kg tiap hari. Dari hasil panen ini saya bandrol harga Rp. 20.000/Kg kepada pengepul di wilayah Jatirogo, Lasem dan Blora,” terang Muklisin, Minggu (24/1/2016).

Menurut pria alumni Fakultas Pertanian tahun 2009 itu, budidaya jamur tiram tersebut tidak memerlukan perawatan khusus. Hanya saja kendalanya adalah suhu udara yang sering kadang panas.

“Saya menyiasati dengan menjaga suhu dan kelembaban ruangan budidaya agar pertumbuhan jamur baik. Untuk mengatur suhu dan kelembaban ruangan maka setidaknya saya harus menyiram ruangan hingga 5 sampai 7 kali dalam seharinya,” ucapnya.

Pria lajang itu kini telah mempekerjakan 3 orang untuk membesarkan usahanya. Dari modal awal Rp. 500 ribu. Kini usahanya terus meningkat, dia juga mengaku tidak pernah mengalami kerugian dalam usahanya. Dalam sebulan dia dapat mengumpukan uang Rp. 2 juta sampai Rp. 4 juta.

“Perjuangan belajar usaha budidaya Jamur Tiram ini saya dapat dari berbagai daerah. Salah satunya dari pengusaha jamur di Bogor. Lokasi lain juga di Cianjur dan Bekasi,” kata Muklisin.

Kini dia mulai merambah pengembangan jarum tiram. Yakni produksi jamur crispy agar mendapat nilai tambah budidaya. Banyak yang mencoba budidaya jamur tiram, namun banyak juga yang gagal ditengah jalan. Sehingga bisnis budidaya ini masih tergolong sepi, namun permintaan pasar masih tinggi.

“Jika ada orang berminat membuka bisnis ini saya siap membantunya dengan menyediakan baglog siap budidaya hanya dengan harga Rp. 3.000 tiap baglog,” pungkasnya. USUL PUJIONO

Facebook Comments

About the Author