Published On: Rab, Jul 17th, 2013

Bubur Muhdhor, Tradisi Yang Tetap Terjaga

Share This
Tags

TUBAN

seputartuban.com – Sudah menjadi tradisi, Masjid Al Mudhor yang berada  di kawasan Jl. Pemuda, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, setiap Ramadhan, Takmir Masjid memasak bubur mudhor.

Bubur Muhdhor

TETAP TERJAGA : Warga saat mengantri bubur muhdhor

Nama bubur yang disamakan dengan nama masjid merupakan pertanda bahwa bubur itu hanya ada di masjid Al Mudhor. Pembuatan bubur ini dibuat hanya dengan takmir masjid laki-laki. Dengan bahan baku bubur berupa beras, air, santan, rempah-rempah, dan garam.

Awalnya pembuatan bubur hanya sekitar 2 Kg sampai 3 Kg. Namun semakin banyaknya donatur yang bersedekah untuk bahan bubur, sekarang dalam setiap pembuatan bubur mencapai 20 Kg beras per-hari.

Pembuatan bubur memerlukan waktu sekitar 3 jam. Di dalam tungku kuningan berukuran 1,5 meter berdiameter 1 meter. Setelah masak, bubur baru bisa dibagikan kepada warga. Biasanya, takmir masjid Al Mudhor baru membagikanya sekitar pukul 17.00 WIB atau menjelang berbuka puasa. Hal ini dilakukan untuk menarik simpatik warga agar ikut mendengarkan pengajian.

Kegiatan seperti ini di lakukan sebulan penuh selama Ramadhan. Sehingga bila menjelang berbuka puasa, terlihat antrian memadati halaman masjid Al-Muhdhor di jalan pemuda. Bahkan kegiatan ini sudah menjadi tradisi turun temurun sejak 60 tahun yang lalu.

Bubur Muhdor

TRADISI : Yang menjadi koki dalam pembuatan bubur Muhdhor harus seorang laki-laki

Selasa (16/07/2013) nampak antrian anak, wanita, hingga pria dewasa masing-masing membawa panci atau wadah kecil untuk menerima bubur. Bahkan beberapa diantaranya membawa timba dan bak besar untuk antri bubur, berharap mendapat bagian lebih banyak.

Tiap hari, antrian sekitar 100 sampai 200 warga. Tidak jarang warga yang sudah antri namun tidak kebagian. Karena terlalu jumlah bubur kalah banyak dengan masyarakat yang mengantri.

Samium Aspolihin (39) warga setempat, salah satu warga yang antri bubur mengatakan dirinya memang sengaja ikut antri setiap harinya. Selain bubur ini gratis juga mengharapkan barokah bulan Ramadhan. Bapak 1 anak ini juga menceritakan budaya antri bubur mudhor merupakan sebuah tradisi dari kakeknya dahulu. “Berkahnya bubur itu yang juga saya cari. Rasanya enak gurih, biasanya juga bagus untuk obat diabetes, meskipun rasanya manis dan gurih,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Anis Aqil (53), Takmir Masjid yang juga warga setempat saat di konfirmasi, mengatakan proses memasak bubur muhdhor dilakukan oleh para takmir laki-laki ini sudah menjadi tradisi. Dan tiap harinya pengurus masjid menyiapkan 5 sampai 6 orang untuk menjadi kokinya. Mulai dari pukul 13.00 hingga pukul 15.00 WIB. Dan dilakukan selama Ramadhan sampai sehari menjelang Idul Fitri.

“Tradisi ini akan tetap kita lestarikan. Kita tidak mewajibkan untuk memasak bubur, namun hukumnya ini tradisi saja. Bila ada yang tidak kebagian itu tidak jadi tanggungan, karena kami membagi bagi siapa saja yang mau, ” ungkapnya. (han)

Facebook Comments

About the Author