Published On: Sen, Mei 11th, 2015

BPBD Tuban: Anomali Sungsang Kemarau Mundur

SUNGSANG: Seharusnya sejak April dasarian III Jawa Timur sudah memasuki musim kemarau. Namun karena terjadi anomali ramalan ini meleset.

SUNGSANG: Seharusnya sejak April dasarian III Jawa Timur sudah memasuki musim kemarau. Namun karena terjadi anomali ramalan ini meleset.

TUBAN

seputartuban.com-Musim kemarau tahun 2015 yang diramal badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Tuban bakal datang “bertamu” lebih awal di Bumi Wali ternyata meleset jauh. Akibatnya, petani yang harusnya pada bulan Mei ini turun ke sawah terpaksa mengundur jadwal tanam padi.

Sebelumnya BPBD Tuban memprediksi kemarau tahun ini datang lebih awal dari sebelumnya yakni awal Maret 2015. BPBD juga menyebut wilayah Kabupaten Tuban termasuk daerah yang akan mengalami masa kekeringan lebih awal.

Namun fakta di lapangan ramalan itu menjadi sungsang, karena hingga memasuki paroh bulan Mei atau dua bulan dari hitungan BPBD hujan masih turun dengan intensitas sedang dan lebat.

Kepala pengendali operasi penanggulangan bencana BPBD Tuban, Pran Supriadi, mengatakan seharusnya sejak April dasarian III (minggu ke-3) Jawa Timur sudah memasuki musim kemarau.
Dia menyebut melesetnya ramalan cuaca ini terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah anomali.

“Namun karena badai siklon tropika yang disebabkan angin muson timur menjadikan beberapa wilayah Jawa Timur masih diguyur hujan berkapasitas ringan dan lebat,” jelas Pran, Senin (11/05/2015) pagi.

Dia menjelaskan, siklon tropika adalah ribut ganas berputar dan berdiameter beberapa ratus kilometer yang terbentuk di perairan tropika. Melalui satelit, ia dilihat seperti satu sistem gegelung ketat penuh kuasa dengan jalur awannya melingkar keluar.

Bagi siklon tropika matang, wujud satu kawasan di pusatnya dikenali sebagai mata yang udaranya secara relatif adalah tenang dengan sedikit awan. Kawasan ini dikenali sebagai mata bagi siklon tropika. Di rantau Asia, siklon tropika lebih dikenali sebagai topan.

Namun begitu, sambung dia, wilayah Jawa Timur yang sudah memasuki musim kemarau sejak April dasarian III di antaranya Kabupaten Jombang bagian utara, Kabupaten Bondowoso bagian utara serta Kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan timur.

“Dalam masa transisi tersebut kami menyampaikan pada masyarakat agar mewaspadai potensi terjadinya hujan lebat disertai angin kencang dan petir dalam durasi singkat,” tegas Pran.

2016 Tuban Bebas Kekeringan

JOKO LUDIYONO: Pemicu terjadinya kekeringan delapan kecamatan lebih awal dibanding wilayah lain, karena daerah ini hutannya sudah gundul. Juga infrastruktur tanah yang sudah tidak memiliki daya serap seperti dulu.

JOKO LUDIYONO: Pemicu terjadinya kekeringan delapan kecamatan lebih awal dibanding wilayah lain, karena daerah ini hutannya sudah gundul. Juga infrastruktur tanah yang sudah tidak memiliki daya serap seperti dulu.

Sebelumnya Kepala BPBD Kabupaten Tuban, Joko Ludiyono, memprediksi musim kemarau tahun ini akan “bertamu” lebih cepat.

Berkaitan kemarau yang disebut Joko akan “bertamu” lebih awal, pihaknya telah mengirimkan sinyal kepada delapan pemangku kecamatan yang wilayahnya akan dilanda kekeringan mendahului kawasan lainnya April nanti.

Sejumlah wilayah yang diperkirakan akan mengalami dampak awal kemarau dini dimaksud adalah Kecamatan Parengan, Grabakan, Semanding, Kerek,Montong, Merakurak, Singgahan serta Kecamatan Senori.

“Kami sudah memberikan rambu-rambu kepada para perangkat desa yang wilayahnya berpotensi mengalami kekeringan. Hal ini untuk memberikan kecerahan pola pikir masyarakat agar dapat berpartisipasi sebelum terjadinya bencana musiman itu sendiri terjadi,”ungkap Joko Ludiyono saat ditemui di kantornya, Selasa (17/03/2015) pagi lalu.

Kata dia, pemicu terjadinya kekeringan pada delapan kecamatan tersebut lebih awal dibanding wilayah lain, karena daerah ini hutannya sudah gundul. Juga infrastruktur tanah yang sudah tidak memiliki daya serap seperti dulu.

Joko mengatakan, kondisi ini sama saat musim penghujan tiba akan mengawali banjir musiman. Ketika musim kemarau tiba kawasan yang sama akan mengalami kekeringan lebi awal, lantaran sumber air mengering dan susah ditemukan mata air baru lagi.

“Contohnya di daerah lereng-lereng gunung kapur utara sekarang sulit ditemukan mata air. Pengeboran untuk mencari sumber air bisa mencapai 200 meter lebih. Dan itu harus ada anggaran Rp 1 miliar untuk pengeboran saja. Tahun 2016 mungkin akan ada kebijakan baru yaitu Tuban bebas kekeringan,” tutup Joko. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author