Published On: Sen, Des 17th, 2018

Berburu Kuliner Tahunan Ulat dan Enthung Jati

seputartuban.com, TUBAN – Ulat Jati dan kepompong atau biasa disebut masyarakat setempat enthung beberapa waktu terakhir ini menjadi primadona bagi masyarakat sekitar hutan jati. Karena lagi musimnya hewan tersebut banyak memakan daun jati. Sehinga masyarakat sekitar hutan banyak berburu untuk dikonsumsi atau dijual.

Salah satu kawasan yang masih banyak pohon jatinya di Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Masyarakat berbagai usia banyak berburu ulat maupun enthung. Mulai pagi sampai sore, kawasan hutan jati yang masih asri berubah bak pasar dadakan.

BERBURU TAHUNAN : Hendri, salah satu warga yang sedang berburu enthung di kawasan hutan jati

Banyak warga yang duduk sambil mencari ulat maupun enthung di bawah pohon jati. Mereka beramai-ramai karena memang tidak sepanjang tahun ada. Dalam setahun cuma sekali, bahkan pernah dalam setahun juga tidak ada musim ulat. Sehingga kesempatan ini menjadi daya tarik bagi masyarakat.

Musim ulat dan enthung biasanya datang saat awalmusim hujan, kondisi daun jati masih muda. Mereka mencari diantara bawah pohon jati atau disemak belukar yang dipenuhi reruntuhan daun jati yang mulai berubah menjadi kompos. “Disetiap tahunnya kami mengambil ulat jati dan enthung, untuk dijadikan lauk makan,” ungkap Hendri (27), salah satu perempuan yang berburu, Minggu (16/12/2018)

Menurut ibu satu anak itu, Enthung memiliki citarasa yang khas. Rasanya gurih jika dibumbui dengan bumbu dapur tertentu. Selain itu, rasa nikmat kuliner ulat atau enthung itu hanya dapat dirasakan dalam setahun sekali. Hal itu membuatnya semangat berburu. Biasaya kuliner khas tahunan itu disajikan dalam bentuk tumis dengan bumbu cabai, bawang merah, bawang putih dan garam. “Dimasak sesuai selera, kalau saya lebih suka di tumis saja,” katanya.

Selain itu, Entung juga dapat dijual dengan harga kisaran ukuran cangkir kopi Rp. 10.000. Sedangkan seukuran mangkok kecil Rp. 40.000  dan untuk 1 Kg mencapai Rp 60.000 sampai Rp 100.000. Biasanya warga kota banyak yang membeli enthung ke pedesaan sekitar hutan. Sehingga warga menjual hasil buruannya tidak perlu sampai ke pasar.

“Selain langsung bisa dimasak, Enthung jati juga bisa diawetkan. Dengan cara dikeringkan terlebih dahulu baru disimpan ditempat yang suhunya stabil. Cuma rasanya tidak seperti saat hasil dari hutan langsung dimasak,” pungkasnya. RHOFIK SUSYANTO

Facebook Comments

Print Friendly, PDF & Email

About the Author

Videos