Published On: Kam, Sep 10th, 2015

Bank Mega Syariah Sita Rumah Warga Rengel

RENGEL

PASRAH: Tim eksekusi Pengadilan Negeri (PN) Tuban saat mengosongkan rumah Taufiqurrozy (35) di Desa  Sumberejo, Kecamatan Rengel, Kamis (10/09/2015) pagi.

PASRAH: Tim eksekusi Pengadilan Negeri (PN) Tuban saat mengosongkan rumah Taufiqurrozy (35) di Desa Sumberejo, Kecamatan Rengel, Kamis (10/09/2015) pagi.

seputartuban.com-Jangan mudah memutuskan berurusan piutang dengan bank jika tak ingin bernasib seperti Taufiqurrozy (35) warga Desa Sumberejo, Kecamatan Rengel.

Gara-gara kredit yang diajukan ke Bank Mega Syariah di Jalan Bsuki Rahmad Tuban tahun 2013 lalu macet pada angsuran ke 20 dari total perjanjian 85 kali angsuran, duda beranak dua ini hanya bisa pasrah saat rumahnya dikosongkan paksa, Kamis (10/09/2015) pagi.

Eksekusi bangunan di atas tanah seluas 172 meter persegi yang bersebelahan dengan Makoramil Rengel yang dipimpin Kabag Ops Polres Tuban Kompol Hanis Subiyono setelah mendapat perintah Panitera Pengadilan Negeri (PN) Tuban Rustamaji, berlangsung tanpa perlawanan. Satu persatu isi rumah digotong keluar hingga tak ada yang tertinggal.

Kuasa hukum pemohon eksekusi, Sukanto Wijaya, menjelaskan tahun 2013 lalu Taufiqurrozy mengajukan kredit ke Bank Mega Syariah Tuban sebesar Rp 125 juta, dengan agunan rumah dan tanah yang kini harus ditinggalkan.

Dalam perjanjian dengan Bank Mega, setiap kali angsuran dia harus membayar Rp 4.125.000. Sampai angsuran ke 20 berjalan lancar. Karena usaha berjualan jam tangan beserta asesorisnya di Pasar Rengel surut, otomatis kredit itu macet pada bulan ke 21.

“Sesuai data yang ada pada kami, dari 85 kali angsuran penghutang haya mampu menyelesaikan 20 kali,” tegas Sukanto Wijaya.

Menurut dia, karena sudah tidak ada solusi maka tanah dan rumah yang dijadikan sebagai jaminan kredit di Bank Mega, dengan terpaksa akhirnya harus disita.

“Karena memang itu perjanjian yang sudah disepakati kedua pihak,” imbuh Sukanto di lokasi eksekusi.

Sementara Taufiqurrozy tak dapat berbuat banyak ketika perintah mengosongkan rumahnya dilaksanakan. Dia hanya bisa menatap rumah yang selama ini tempat berteduh dan menyusun berbagai rencana bisnis sudah bukan lagi miliknya.

“Ya, mau bagaimana lagi, Mas. Usaha saya menurun sedangkan kedua anak saya masih sekolah. Sementara ini saya mau numpang di rumah saudara di Bojonegoro” katanya getir.  ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author