Published On: Sen, Jul 13th, 2015

Atap Goa Ngerong Ambrol Sinyal Tuban Gawat

Semenjak dieksploitasi era tahun 1990-an, kondisi gugusan bukit kapur di Kecamatan Rengel tak tebantahkan mengalami kerusakan. Musnahnya keindahan panorama perbukitan kapur yang membelah kawasan utara dan selatan Kabupaten Tuban ini mengancam situs Goa Ngerong dan berkembangnya benih konflik sosial di masyarakat.

illustrasi: GOOGLE IMAGE DIOLAH

illustrasi: GOOGLE IMAGE DIOLAH

seputartuban.com-Peristiwa longsornya langit-langit Goa Ngerong di Desa Rengel, Minggu (05/07/2015) lalu, seperti mengirimkan sinyal bahaya kawasan perbukitan lain di wilayah Kabupaten Tuban.

Mengingat longsornya atap goa sebagai rumah puluhan ribu kelelawar yang di bawahnya mengalir anak sungai dengan ribuan ikan ini, merupakan rangkaian panjang yang menghubungkan kawasan penambangan batu kapur di beberapa tempat seperti Kecamatan Grabagan, Merakurak, Parengan dan Kecamatan Palang.

Sedangkan pada lokasi titik ambrolnya atap goa ini persis di atasnya dijadikan lahan penambangan batu kapur secara massal. Meski Pemkab Tuban telah menetapkan kawasan terlarang bagi penambangan di kawasan Goa Ngerong, tapi sepertinya belum bisa benar-benar bersih dari aktivitas penggalian batu kumbung.

Padahal larangan tersebut semata untuk menyelamatkan mata air. Namun, kegiatan menambang memang tidak hanya terkait urusan lingkungan, tapi juga masalah perut. Yakni bagaimana kegiatan tersebut bisa produktif, menghidupi keluarga dan masyarakat luas.

Berdasarkan data yang diperoleh sepuartuban.com di kantor Kepala Desa Rengel pemilik tambang batu kumbung di kawasan Ngerong di antaranya Gus Muh, Gus Adam, Gus Siroj, Dardak Darkasih, Paninten serta Sutikno. Meski tergolong tradisional, tak kurang 100 penambang menggantungkan hidup dari penambangan milik owner lokal tersebut.

TETAP DIMINATI: Pengunjung berjubel di mulut Goa Ngerong pasca peristiwa longsor.

TETAP DIMINATI: Pengunjung berjubel di mulut Goa Ngerong pasca peristiwa longsor.

Pj Kepala Desa Rengel, Rudy Hermawan, mengatakan longsornya material di dalam Goa Ngerong sudah terjadi selama tiga kali sepanjang rentang Januari hingga Juli 2015.

Kondisi terparah adalah longsor kali ini dengan material batu berdiameter tinggi mencapai dua meter dan lebar enam meter.

Runtuhnya bonghan batu tersebut menyebabkan aliran air sungai di dalam goa menjadi terhambat. Dari lebar sebelumnya delapan meter sekarang tinggal dua meter saja, disertai penurunan debit air hingga 10 centimeter.

“Selain itu banyak kelelawar yang mati. Perkiraan kami mencapai ribuan. Bangkainya sampai sekarang masih tersangkut di tanggul. Beberapa kelelawar lainya bahkan mulai meninggalkan goa,” kata Hermawan.

Pasca kejadian pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan warga dan pemilik tambang yang dimediasi Polsek Rengel. Selain itu bersama kominitas pecinta alam Acarina Tuban pihak desa melakukan penelusuran ke dalam goa bersama unsur muspika.

Dari muhibah itu didapati longsor terjadi pada itik 250 meter dan titik 300 meter dari mulut goa. Juga ditemukan keretakan panjang melintang dengan kedalaman 500 meter.

Kapolsek Rengel, AKP Musa Bachtiar, menduga longsornya atap goa karena maraknya aktivitas penambangan di permukaan atas goa dengan cara mekanik.

“Untuk sementara aktivitas penambangan dihentikan. Beberapa peralatan mekanik untuk kegiatan penambangan bahkan sudah dibongkar pemiliknya sendiri secara suka rela. Suasana cukup kondusif pasca longsor,” tutur Musa.

NOOR NAHAR: Kita ingin ada penelitian sehingga tidak hanya berdasarkan asumsi-asumsi saja.

NOOR NAHAR: Kita ingin ada penelitian sehingga tidak hanya berdasarkan asumsi-asumsi saja.

Pemkab Harus Stop Bisnis Penambangan

Direktur LSM Cagar Tuban, Edy Thoyibi, mengungkapkan ambrolnya dinding Goa Ngerong disebabkan karena terganggu aktivitas yang ada di atasnya.

Ada kegiatan penambangan yang menimbulkan getaran. Sebab secara teori penyebabnya itu ada dua hal. Yaitu karena gempa dan akibat ulah manusia.

“Kalau tidak ada gempa, ya yang pasti karena ulah manusia atau kegiatan penambangan itu,” tegas Edy.

Dikatakan, jauh sebelumnya dirinya sudah pernah memberikan masukan kepada Pemkab Tuban supaya kegiatan tambang di daerah goa dihentikan. Saat ini adalah momentum yang baik untukmenghentikan kegiatan tambang itu.

“Perlu ada tindakan cepat dari pemkab agar goa yang sudah diakui dunia ini tidak rusak yang lebih parah lagi,” sambungnya.

Ketua Komisi D DPRD Tuban, Imron Chudlori, mengatakan harusnya di atas goa itu dijadikan sebagai daerah serapan air. Mengingat di dalam goa ada sumber air yang perlu dijaga.

“Yang pasti itu penambangan liar, dan kita minta masyarakat agar ikut mengawasi dan melaporkan kepada polisi bila ada penambangan ilegal. Itu jelas-jelas melanggar hukum,”jelas Imron.

Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Husein, mengaku setelah peristiwa Goa Ngerong ini longsor maka semua aktivitas pertambangan yang ada di kawasan tesebut ditutup sampai waktu yang tidak terbatas.

“Kegiatan penambangan sudah kita perintahkan untuk ditutup,” tegas Noor Nahar.

Selanjutnya, Pemkab Tuban akan melakukan langkah-langkah guna menyelamatkan Goa Ngerong. Di antaranya akan melakukan penelitian dan pemetaan terhadap daerah yang dilintasi oleh lorong, sehingga diatasnya akan dibuat sebagai daerah lindung yang tidak boleh dilakukan aktivitas penambangan.

“Kita ingin ada penelitian sehingga tidak hanya berdasarkan asumsi-asumsi saja,” katanya. ARIF AHMAD AKBAR, MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author