Published On: Sen, Jun 2nd, 2014

Artis FTV Natasha Borong 1.000 Klobot Remen

Kebenaran ungkapan klasik man jadda wa jadda yang kini mulai akrab di seputar kehidupan kita dibuktikan perempuan bernama Juminingsih asal Desa Remen, Kecamatan Jenu, Tuban.

SAATNYA BANGKIT: Natasha Ratulangi saat melihat dari dekat para wanita kreatif di rumah Juminingsih di Desa Remen, Jenu, belum lama.

SAATNYA BANGKIT: Natasha Ratulangi saat melihat dari dekat para wanita kreatif di rumah Juminingsih di Desa Remen, Jenu, belum lama.

seputartuban-com-Ya, sepenggal “mantra sakti” itu mampu memberikan semangat dalam mengubah kehidupan wanita 36 tahun yang berhasil menyulap klobot jagung menjadi tumpukan rupiah.

“Siapa yang serius pasti akan sukses,” begitu arti ungkapan klasik tersebut, juga mampu menyuntik perempuan-perempuan kreatif lain di Desa Remen untuk mengikuti jejak isteri Ahmad Lazib mengakrabi klobot sebagai bahan dasar pembuatan asesoris berbasis bunga alam. Tak hanya pasar lokal. Diam-diam kerja keras Juminingsih menarik minat artis FTV Natasha Ratulangi.

Tak tanggung-tanggung, pendukung FTV “Lara” yang tayang di MNC ini memborong 1.000 tangkai klobot untuk hajatan pesta pernikahan. Alhasil, ketertarikan pemeran utama FTV “Parfum Pemikat” dan “Di antara 2 Dunia” tersebut menular ke kalangan selebritis lain.

Ikhwal order besar dari pesinetron kelahiran Malang, Jawa Timur, Juminingsih menyebut  bagian dari ketekunan yang selama ini dilakoni bersama para wanita lain di Desa Remen.

“Sebelumnya kita kenal dengan ibu Natasya dalam sebuah kesempatan. Kemudian kami terlibat aktif dalam berkomunikasi. Terus pesan 1.000 bunga untuk pernikahan Natasya,“ tutur Juminingsih saat ditemui di rumahnya Desa Remen, Kecamatan Jenu, (02/05/2014) pagi.

Orderan terbesar yang selama ini menjadi impiannya terkabul. Kerajinan dari limbah kulit jagung yang umumnya dipergunakan untuk pakan ternak sapi itu berupah menjadi berkah yang melimpah. Bahkan saat klobot yang sering dianggap sebagai sampah kotor oleh kebanyakan petani, kini berubah menjadi tumpukan rupiah di tangan istri dari Ahmad Lazib itu.

Ide kreatif tak luput dari benaknya setiap hari. Sedikitnya lima wanita setempat, atau sedikit dari mereka yang mau bekerja menjadi kuli rangkai klobot di bengkel Juminingsih tersebut, menjadi andalan membantu merangkai bunga dari klobot jagung.

Kini, sedikitnya 100 tangkai bunga dihasilkan setiap harinya. Dengan dibantu suami, pesanan dengan partai besar sedikit demi sedikit mulai datang. Paling banyak dirinya mengiurimkan ke daerah Surabaya dan sekitarnya. Biaya produksi untuk setiap tangkai bunga Rp 2.000. Sementara harga jual berkisar Rp 5-10 ribu. Sedangkan untuk bunga dengan rangkaian besar harganya bervariasi.

“Kalau yang model bunga mawar ini Rp 5 ribu per tangkainya. Kita sudah punya pelanggan tetap dari  Surabaya,“ kata Juminingsih.

Terkait modal, Ahmad Lazib menjelaskan sampai saat ini usaha kreatifnya masih  mengandalkan dana pribadi. “Kita modal sendiri, mencari pasar sendiri. Terkadang juga ikut pameran,“ imbuh Lazib sembari menyebut langkanya bahan baku menjadi kendala utama yang sampai sekarang belum bisa diatasi.

Klobot jagung memang melimpah ketika musim panen yang hanya terjadi antara bulan April hingga Mei setiap tahunnya. Di luar bulan itu klobot jagung menajdi langka. Selain itu, minimnya peminat untuk menjadi tenaga kerja membuat Lazib dan isteri sering kewalahan memenuhi pesanan.

“Tenaga sortir klobot, pengguntingan dan  pewarnaan terkadang membuat orang malas dan kurang telaten. Dulu itu ada 45 orang yang bergabung. Sekarang tinggal lima orang saja,“ ujar Lazib.  HANAFI

Facebook Comments

About the Author

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. Nanik Singgahan berkata:

    Salut…. semoga ini menjadi isnpirasi