Published On: Kam, Des 12th, 2013

45 Hektar Lahan Pertanian Diterjang Banjir Bandang, Kerugian Capai Rp. 200 Juta

Share This
Tags

KEREK

seputartuban.com – Sekitar 45 hektar lahan pertanian milik warga Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, rusak parah akhibat diterjang banjir bandang, Senin (09/12/2013) lalu.

Petani Karanglo Kerek Tuban

PASRAH : Kondisi tanaman jagung petani Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, rusak akibat diterjang banjir bandang

Dengan rincian 20 hektar tanaman padi dan 25 hektar lainya sudah ditanami jagung dan singkong. Tanaman yang baru berusia 1 bulan, kondisinya rusak akibat diterjang air bah.

Menurut Kaswadi (51), salah satu petani warga Desa Karanglo saat ditemui mengatakan, banjir bandang membuat dirinya merugi. Karena biaya untuk pembelian bibit, pupuk dan pengelolaannya harus hilang. Karena tanamanya rusak, hal ini mempengaruhi hasil panen. “Saya hanya bisa pasrah dan berusaha memperbaiki tanaman yang masih bisa dirawat. Harga bibit dan pupuk yang tiap tahunnya selalu naik,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Cabang Tuban, Nurhadi saat dikomfirmasi, Kamis (12/12/2013) mengatakan,  penyebab banjir bandang tersebut karena curah hujan tinggi. Serta hutan yang sebelah selatan Desa Karanglo gundul dan menjadi lahan pertanian warga. “Selama hutan Jati Gembol masih gundul dan dipakai untuk lahan pertanian maka setiap curah hujan tinggi daerah sini pasti akan kebanjiran. Karena sebelumnya tidak seperti ini” ungkap Nurhadi.

Selain itu, dirinya berharap supaya dilakukan reboisasi agar penyerapan air lebih maksimal. Sehingga tidak menyebabkan banjir bandang. Selain merusak tanaman karena tertimpa lumpur, banjir juga menyebabkan pematang sawah mengalami rusak.

Saat ini dirinya melakukan pendataan kerugian penyebab banjir tersebut dan akan melakukan kordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Pertanian dan Perhutani untuk mencegah agar banjir tidak semakin parah bila hujan datang. “Dari hasil pendataan sementara kerugian petani diperkirakan mencapai Rp. 200 juta, mulai dari biaya penggarapan, bibit dan pupuk,” jelasnya.

Ketua SPI menambahkan, ia berharap agar pemerintah melalui Dinas Pertanian memberikan bantuan kepada para petani berupa bibit. Supaya penderitaan para petani terkurangi, dan melakukan pembenahan inflastruktur pendukung lainya. “Waduk Singkil yang ada tidak mampu menampung debit air yang terlalu besar. Tiap tahunnya sering terjadi banjir namun tidak separah kali ini,” tegasnya. (lis)

Facebook Comments

About the Author