Published On: Sen, Des 15th, 2014

Petani Tuban Syok, Harga Pupuk Bersubsidi Kian Ngawur

Ini mungkin logika jungkir balik. Yang namanya pupuk bersubsidi harusnya bisa terjangkau semua petani. Tapi tidak demikian yang terjadi di Kabupaten Tuban.

HETseputartuban.com-Layaknya sebuah “tradisi” yang dialami kaum tani di Bumi Wali, setiap musim tanam tiba hampir bisa dipastikan stok pupuk bersubsidi di kios-kios remi seperti raib. Kemana larinya pupuk-pupuk bersubsidi dari kios resmi, tak satupun pihak bisa memberikan penjelasan yang bisa diterima akal sehat.

Akibatnya, pada waktu musim tanam para petani di Kabupaten Tuban selalu dibingungkan dengan kelangkaan dan kenaikan harga pupuk yang tidak sewajarnya. Hal itu selalu terjadi setiap kali musim tanam tiba, tidak hanya musim tanam tahun ini saja.

Seperti pengakuan Toyib. Petani 37 tahun asal Kecamatan Kerek, mengatakan bahwa tiap kali musim tanam petani selalu bingung akan melakukan pemupukan. Sebab pupuk yang bulan-bulan sebelumnya mudah didapat, kini saat petani membutuhkan pupuk kondisinya menjadi langka. Kelangkaan tersebut mengakhibatkan naiknya harga pupuk di pasaran serta banyaknya pupuk bersubsidi yang dijual oleh kios-kios tidak resmi.

“Di kios resmi sekarang ini tidak ada stok pupuk sama sekali. Sehingga para petani membeli pupuk di kios-kios yang tidak resmi dan harganya meningkat hampir dua kali lipat,” keluh Toyib disamping petani lainnya saat bergerombol di sudut Desa Padasan, Kecamatan Kerek, Senin (15/12/2014).

Saat ini harga pupuk di pasaran kenaikannya hampir seratus persen. Seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Kerek. untuk pupuk jenis NPK saat ini harganya meningkat hingga mencapai Rp 150 ribu per sak isi 50 kilogram. Ini jauh melewati harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 115 ribu. Pupuk jenis Urea yang sebelumnya Rp 90 ribu per sak sekarang ini tembus Rp 120 ribu. Pupuk jenis ZA dari Rp 70 ribu persak menjadi Rp 95 ribu.

Menanggapi fakta jungkir balik itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Heri Prasetyo, beralasan ketersediaan pupuk bersubsidi tidak sebanding dengan kebutuhan. Sehingga hal itu menjadi penyebab kelangkaan pupuk pada saat musim tanam.

“Sudah pernah kita usulkan untuk penambahan kuotanya, namun hingga saat ini masih belum datang. Kami sudah minta tambahan pada bulan Agustus lalu tapi juga belum tercukupi hingga saat ini,” ujar Heri

Menurut dia, saat ini upaya yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan pupuk yang ada. Yang diutamakan adalah pemupukan dasar yakni urea 100 kg per hektar, NPK 50 kg per hektar dan organik 400- 500kg per hektarnya. Dia memperkirakan  jumlah pertanaman untuk November dan Desember seluas 85 ribu hektar padi dan jagung dengan pupuk yang tersedia bisa mencukupi.

“Karena pemupukan susulan kedua dan ketiga jatuh pada bulan Januari dan Februari 2015,” tegas dia.

Aneh, Katanya Stabil Tapi Kok Langka

Sementara Ketua Komisi B DPRD Tuban, Karjo, megungkapkan dari hasil sidak yang dilakukannya di gudang-gudang penampungan pupuk, hingga saat ini kondisinya masih stabil. Kelangkaan pupuk ditingkat petani itu disebabkan karena stok untuk kios resmi sudah habis sesuai dengan rencana daftar kebutuhan definitif (RDKK) yang diajukan oleh kelompok tani.

Untuk mengatisipasi kekurangan pupuk itu, diharapkan para petani melakukan pemupukan sesuai dengan kebutuhannya atau tidak berlebihan. Selain itu, komisi pengawasan pupuk dan pestisida (KP3) harus segera melakukan sidak lapangan terhadap kios-kios yang tidak resmi.

“KP3 selaku pengawas penyaluran pupuk harus segera melakukan sidak dan menindak tegas terhadap penjual pupuk ilegal. Sebab sangat meresahkan para petani dan dimanfaatkan oleh para pengusaha-pengusaha untuk mengeruk keuntungan,” ungkap Karjo.

Karjo menegaskan, dirinya juga akan segera melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk membahas permasalahan pendistribusian pupuk dan permasalahan kelangkaan pupuk yang selalu terjadi. Juga melakukan penindakan terhadap kios-kios resmi yang melakukan permainan penjualan pupuk atau menjual pupuk di atas HET yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Sebelumnya, KP3 Kabupaten Tuban dibikin puyeng seiring menjamurnya kios pupuk ilegal yang ditengarai masih memiliki stok cukup melimpah. Kondisi ini berbalik banding dengan stok pupuk bersubsidi di sejumlah kios resmi yang sudah kosong.

Kepala Dinas Perekonomin dan Pariwisata Kabupaten Tuban, Farid Ahmadi, mengatakan situasi inilah yang kemudian dimanfaatkan sejumlah kios ilegal di Kabupaten Tuban menjual pupuk jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah.

“Dari hasil pantauan saat ini, ikos-kios ilegal tersebut memperoleh pupuk bersubsidi dari luar Kabupaten Tuban. Tapi hal itu tetap melanggar peraturan, sebab pupuk itu tidak dijual secara bebas. Hanya kios-kios resmi yang bisa menjual pupuk bersubsidi,” terang Farid yang juga Ketua KP3 Kabupaten Tuban.

Dia mengatakan, KP3 selaku pengawasan penyaluran pupuk akan menindak tegas terhadap kios-kios ilegal yang menjual pupuk diatas HET. Sebab hal itu sangat merugikan petani. Dengan peningkatan harga pupuk di atas HET, maka biaya tanam yang dikeluarkan oleh petani akan semakin besar.

Pantauan KP3, banyaknya pupuk bersubsidi yang dijual dengan harga diatas HET karena di kios resmi stok pupuk sudah kosong. Akibatnya, petani yang akan memulai masa tanam rendengan (penghujan) tahun ini  terpaksa membeli pupuk di kios-kios tidak resmi meski harganya melambung.

“Kemarin kita sudah memberikan peringatan kepada kios ilegal yang ada di Kecamatan Merakurak supaya tutup. Bla sampai peringatan tiga kali tidak diindahkan, maka akan kita lakukan penindakan sesuai dengan peraturan yang ada,” sambung Farid.

Dia mengimbuhkan, warning tesebut tidak hanya berlaku untuk kios-kios ilegal saja. Kepada kios-kios resmi yang menjual pupuk diatas HET atau menjual pupuk kepada kios ilegal maka izinnya akan dicabut.

Disebutkan, sesuai Peraturan Menteri Pertanian bernomor 112/Permentan/SR.130/11/2013 tertanggal 26 Nopember 2013 tentang kebutuhan dan HET pupuk bersubsidi Untuk sektor pertanian tahun 2014, disebutkan pupuk urea Rp 1.800 per kilogram, pupuk SP36 Rp 2.000 per kilogram, pupuk ZA Rp 1.400 per kilogram, pupuk NPK Rp 2.300 per kilogram dan pupuk organik Rp 500 perkilonya. MUHLISHIN, MUHAIMIN

Facebook Comments

About the Author