Published On: Sen, Jul 21st, 2014

187 Pohon Jati Mati Mendadak “Disembur” Minyak

BANGILAN

BAHAYA: Insiden semburan minyak setinggi 16 meter dari salah satu sumur tua di Dusun Tawun, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, yang terjadi pukul 04.00 WIB Jumat (11/07/2014) lalu hingga Senin (21/07/2014) masih terus berlangsung.

BAHAYA: Insiden semburan minyak setinggi 16 meter dari salah satu sumur tua di Dusun Tawun, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, yang terjadi pukul 04.00 WIB Jumat (11/07/2014) lalu hingga Senin (21/07/2014) masih terus berlangsung.

seputartuban.com-Sedikitnya 187 pohon jati yang rata-rata berusia 10 tahun dipastikan mati, akibat terkena dampak semburan minyak dari sumur tua yang berada di Petak 58 KRPH Tawun, BKPH Bahoro, Perhutani KPH Jatirogo. Sementara 1 haktare tanaman jati lainnya di lokasi tersebut rusak parah karena kondisinya mulai mengering.

Adm Perhutani KPH Jatirogo, Ahmad Basuki, mengatakan setelah dilakukan pendataan ada seluas 1 hektar tanaman jati di sekitar semburan minyak diperkirakan mengalami putus masa pertumbuhannya.

“Saat ini ada sebnayak 187 pohon jati kondisinya mengering dan mati karena akarnya terkena minyak dari semburan sumur itu,” tegas dia saat dihubungi seputartuban.com melalui ponselnya, Senin *21/07/2014) siang.

Basuki menjelaskan, kerugian volume kayu jati mencapai 6,27 meter kubik. Berdasar pantauan Perhutani KPH Jatirogo di lokasi sumur minyak tua Tawun masih mengeluarkan semburan minyak. Hanya saja debitnya tidak sedahsyat semburan awal awal yang terjadi Jumat (11/07/2014) dini hari lalu.

Menurut dia, saat ini pada titik semburan dipasang pipa agar tidak menyembur ke atas serta dialirkan ke tempat tertentu. Tujuannya agar tidak semakin memperluas kerusakan tanaman pohon jati yang ada.

Kepada masyarakat yang mengambil minyak, Basuki mengimbau agar tidak membuang lantung secara sembarangan. Karena bisa mencemari lingkungan dan membunuh tanaman yang ada di sekitarnya.

“Saat ini kita jaga agar tidak terjadi perselisihan antar warga yang menimba minyak. Selain itu juga melakukan pengawasan sebagai bentuk antisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuh Basuki.

Sedangkan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran, pihak Perhutani meminta kepada masyarakat yang mengambil minyak tidak membawa alat atau benda yang bisa memicu terjadinya kebakaran. Serta melakukan kordinasi dengan TGE dan Pertamina untuk menyediakan mobil pemadam kebakaran di lokasi.

“Meski lokasi sumur minyak itu berada di kawasan Perhutani kita tidak memiliki kewenangan. Aktifitas ekksplorasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pertamina,” tandas Basuki.

Sementara itu, saat ini masyarakat yang mengambil minyak itu setiap harinya antara 300 -350 orang. Hingga saat ini masih belum dilakukan pembicaraan antara Perhutani dengan TGE, maupun Pertamina, terkait ganti rugi terhadap kerusakan kayu dan lingkungan yang disebabkan oleh semburan sumur tua itu.

“Kita masih konsentrasi pada tahap penyelesaian dan penghentian semburan, serta hal lain yang pelu ditangani lebih dulu,” kata dia.

Basuki menjelaskan, dari hasil pertemuan dengan Pertamina, TGE, Perhutani dan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Tuban, pihak TGE dan Pertamina sepakat akan segera menghentikan atau menutup semburan itu karena sangat berbahaya.

Pengamatan seputartuban.com, insiden semburan minyak setinggi 16 meter dari salah satu sumur tua di Dusun Tawun, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, yang terjadi pukul 04.00 WIB Jumat (11/07/2014) lalu hingga Senin (21/07/2014) masih terus berlangsung.  MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author